Opini
Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan?
Ia tidak sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang kelak menjadi penggerak seluruh sektor pembangunan.
Oleh: Dr. Burhan, M.Pd
Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Bosowa
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah derasnya arus transformasi digital dan revolusi industri, perhatian publik sering kali terfokus pada relevansi bidang atau jurusan yang dibutuhkan oleh industri, seperti teknologi informasi, rekayasa, dan bisnis digital.
Kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia kembali dihadapkan pada pilihan strategis yang menentukan arah masa depan bangsa.
Salah satu wacana yang mengemuka dan memantik perdebatan publik adalah rencana penghapusan progran studi keguaruan yang berjumlah sekitar 2.500.
Kebijakan ini, yang diklaim sebagai bagian dari upaya efisiensi dan penataan mutu pendidikan tinggi, justru menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah langkah ini benar-benar solusi atas persoalan pendidikan, atau justru menjadi awal dari kemunduran sistemik dalam pembangunan sumber daya manusia? Ironisnya, peran strategis ini kerap dipandang sebelah mata, seolah jurusan keguruan hanya pelengkap, bukan penggerak utama perubahan.
Sejak lama, jurusan keguruan menempati posisi yang unik dalam ekosistem pendidikan.
Ia tidak sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang kelak menjadi penggerak seluruh sektor pembangunan.
Ironisnya, di tengah urgensi tersebut, jurusan keguruan kini justru berada dalam bayang-bayang keraguan, baik dari sisi kebijakan maupun persepsi masyarakat.
Wacana penghapusan ribuan program studi keguruan semakin memperkuat sinyal bahwa profesi guru tidak lagi dipandang sebagai prioritas strategis, melainkan sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan nasional.
Pada era industri yang ditandai dengan otomatisasi, kecerdasan buatan, dan disrupsi teknologi, kebutuhan akan sumber daya manusia yang bermoral, adaptif, kreatif, dan berkarakter semakin mendesak.
Di sinilah lulusan pendidikan atau keguruan memainkan peran krusial.
Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan arsitek masa depan yang membentuk cara berpikir generasi muda agar mampu menghadapi kompleksitas zaman.
Tanpa guru yang berkualitas, mustahil lahir inovator, ilmuwan, atau pemimpin yang mampu bersaing secara global.
Lebih jauh lagi, jurusan keguruan saat ini tidak lagi relevan jika hanya berfokus pada transfer pengetahuan.
Paradigma baru menuntut jurursan keguruan untuk menguasai pedagogi abad ke-21, seperti pembelajaran berbasis proyek, literasi digital, berpikir kritis, hingga penguatan karakter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Universitas-Bosowa-03052026.jpg)