Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Merawat Kemerdekaan di Tengah Krisis Ekologis

Di tengah kecemasan Amerika Serikat terhadap komunisme dan menguatnya kapitalisme global, Indonesia menawarkan jalan lain: dunia

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
DOK PRIBADI
drg Rustan Ambo Asse SpPros 

Prediksi tentang kerusakan alam, seperti yang diungkapkan Cisca Pattipilohy, kini menjelma menjadi fakta sejarah peradaban modern.

Titik Balik Sejarah Dunia Modern

Sepuluh tahun setelah Konferensi Asia Afrika, dunia memasuki babak gelap.

Pada 1965, tokoh-tokoh utama gerakan anti-kolonialisme—Soekarno di Indonesia, Kwame Nkrumah di Ghana, Patrice Lumumba di Kongo—disingkirkan atau dibunuh.

Kekhawatiran Amerika Serikat terhadap komunisme melahirkan operasi intelijen global yang meninggalkan jejak tragedi kemanusiaan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Sejarah memang tidak dapat diulang atau disesali, tetapi harus dibaca secara jujur.

Dari perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, konflik internal, hingga Reformasi 1998, Indonesia masih bergulat dengan korupsi, pelanggaran HAM, dan kerusakan lingkungan.

Semua itu menuntut evaluasi berkelanjutan sekaligus menjaga harapan bahwa kemerdekaan sejati masih mungkin diwujudkan.

Revolusi, sebagaimana dituturkan dalam buku Van Reybrouck, belum selesai. Tantangan hari ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan struktural yang merusak keadilan sosial dan keberlanjutan alam.

Merawat alam adalah bagian tak terpisahkan dari merawat kemerdekaan. Tanpa itu, revolusi hanya akan tinggal sebagai catatan sejarah, bukan cita-cita yang hidup.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved