Opini
Merawat Kemerdekaan di Tengah Krisis Ekologis
Di tengah kecemasan Amerika Serikat terhadap komunisme dan menguatnya kapitalisme global, Indonesia menawarkan jalan lain: dunia
Rustan Ambo Asse
Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
“ANDA tahu,” Sebetulnya kami tak pernah sungguh-sungguh merdeka, kami mengira bisa membuat segala sesuatunya menjadi adil, tetapi kami ketinggalan tiga abad.
Itulah yang menjadikannya sulit.
Kubu seberang lebih kuat sistem kapitalis lebih tegak dimana-mana.
Namun, selama sistem ini berjalan terus seluruh dunia akan hancur dan lingkungan hidup rusak.
Hutan-hutan di Sumatera, di Kalimantan , di seluruh Afrika semuanya sedang dihancurkan “
Ungkapan Cisca Pattipilohy—salah satu narasumber David Van Reybrouck—dalam buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern terasa semakin relevan untuk membaca Indonesia hari ini.
Buku tersebut bukan sekadar catatan sejarah kemerdekaan, melainkan rekaman suara batin para pelaku sejarah yang menyaksikan secara langsung kolonialisme, penderitaan, kelaparan, perang, dan pertarungan ideologi global. Indonesia tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi aktor penting yang ikut membentuk dunia modern.
Momentum itu mencapai puncaknya pada 18 April 1955, ketika Soekarno berpidato dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Di tengah kecemasan Amerika Serikat terhadap komunisme dan menguatnya kapitalisme global, Indonesia menawarkan jalan lain: dunia yang menentang kolonialisme dan imperialisme, menolak rasisme dan perbudakan, serta menjunjung kesetaraan dan keadilan.
Gagasan tersebut menginspirasi banyak negara Asia dan Afrika untuk menentukan nasibnya sendiri, melampaui sekat ideologi yang membelah dunia kala itu.
Warisan Kepemimpinan Nasional
Semangat para pendiri bangsa yang tergambar dalam buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern seharusnya menjadi cermin bagi generasi kepemimpinan nasional hari ini.
Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan Malaka tumbuh dalam perbedaan gagasan yang tajam, namun disatukan oleh kesadaran akan penderitaan rakyat. Mereka menyaksikan langsung kerja paksa, kelaparan, pemukulan, bahkan kematian massal akibat sistem kolonial yang kejam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/drg-Rustan-Ambo-Asse-SpPros-1-1062022.jpg)