Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UNM

Karya Sastra Dan Perjuangan Hak-Hak Perempuan

Secara umum sastra dapat diartikan sebagai media ekspresi diri dari pengalaman dan kehidupan manusia melalui bahasa.

Editor: Sudirman
Ist
Andi Yahyatullah Muzakkir, Founder Anak Makassar Voice 678 

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Komite Sastra Dewan Kesenian Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa pekan yang lalu, saya menghadiri giat literasi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra (HMPS SASINDO) Universitas Negeri Makassar. Kegiatan yang saya hadiri ini cukup meriah dan sangat antusias.

Kegiatan ini bertajuk Literasi Pena dengan tema “Perempuan Dalam Sastra Indonesia: Antara Suara yang dibungkam dan ruang yang diperjuangkan.

Pengurus dan para kader yang mengikuti kegiatan ini memiliki banyak pertanyaan yang cukup subtansi, menyoal feminisme, kesetaraan hak-hak perempuan terkhusus sekali dalam kehidupan sosial dan peranannya dalam dunia sastra.

Ringkasnya, kajian ini berjalan penuh dialektika, penuh kegelisahan, tanya jawab tak henti, lalu selesai karena waktu petang telah menghampiri. 

Dalam kajian ini, saya berpikir bahwa memang sudah menjadi keharusan oleh anak muda dan mahasiswa yang bergelut di dunia sastra, dunia kepenulisan mesti banyak mendorong isu-isu serius, pokok-pokok pikiran, ide-ide dan gagasan tentang perempuan.

Tentang Sastra

Secara umum sastra dapat diartikan sebagai media ekspresi diri dari pengalaman dan kehidupan manusia melalui bahasa.

Olehnya, sastra bukan hanya sekedar tulisan melainkan cerminan terdalam manusia. Melalui sastra manusia mengungkapkan emosi seperti cinta, rindu, kemarahan dan kesedihan.

Dengan demikian, sastra meliputi puisi, prosa, novel, cerpen, drama (teater) dan seterusnya.

Dalam studi ilmiah, membaca karya sastra dipandang sebagai sarana atau terapi positif mengatasi stres dan kecemasan.

Olehnya itu, semangat mendorong karya sastra adalah sesuatu yang mulia terhadap kemanusiaan.

Literasi pena yang berlangsung ini cukup mendalam, paparan-paparan materi kajian cukup kompatibel dan subtansi karena teman-teman dari SASINDO juga membenturkan dengan teori-teori sastra, bacaan karya sastra yang didapatkannya pada saat di kelas.

Sehingga pada dialektika ini cukup beragam dan padat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved