Opini Rahmat Muhammad
Ketika Langit Makin Mahal
Di Bandara Soekarno-Hatta, harga yang sebelumnya Rp13.656 per liter tiba-tiba menjadi Rp23.551 per liter.
Oleh: Rahmat Muhammad
Dosen Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Dulu, naik pesawat adalah kemewahan.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmatinya seperti pejabat, pengusaha, atau mereka yang punya cukup uang lebih.
Lalu perlahan, selama dua dekade terakhir, pesawat berubah menjadi sesuatu yang lebih biasa.
Tiket murah bertebaran, orang dari berbagai kalangan mulai terbiasa terbang.
Pesawat bukan lagi simbol status, tetapi menjadi alat transportasi yang memudahkan mobilitas penduduk dari suatu kota ke kota lain perpindahannya tanpa harus memakan waktu sampai berhari-hari.
Sampai kemudian pada April 2026 kita mendengarkan kabar yang tidak menyenangkan, yakni harga tiket pesawat naik hingga 13 persen.
Dalam kajian Sosiologi Ekonomi, kenaikan ini disebabkan oleh harga avtur (bahan bakar pesawat) melonjak hampir 72 persen dalam sebulan.
Di Bandara Soekarno-Hatta, harga yang sebelumnya Rp13.656 per liter tiba-tiba menjadi Rp23.551 per liter.
Baca juga: Dr Rahmat Muhammad Ceramahi Legislator Wajo: Perlu Kolaborasi dengan Akademisi Atasi Danau Tempe
Bukan angka kecil karena avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai, maka tidak ada yang bisa berpura-pura bahwa kenaikan ini tidak berdampak, oleh karena itu harga tiket pun ikut naik, diperkirakan antara 9 hingga 13 persen.
Angka ini mungkin terdengar tidak terlalu besar, tapi mari kita bicara tentang "siapa yang paling merasakannya".
Ketika harga tiket naik, yang pertama mundur bukanlah orang kaya atau pejabat negara sebagai penguasa dan juga pengusaha (pelaku bisnis).
Mereka tetap akan terbang, bahkan mungkin tidak terlalu memperhatikan selisihnya.
Yang paling terdampak adalah mereka yang selama ini sudah berhitung cermat untuk bisa naik pesawat, seperti mahasiswa yang pulang kampung setahun dua kali, keluarga kelas menengah yang merencanakan liburan jauh-jauh hari, pekerja migran yang ingin menemui keluarganya di kampung halaman, atau pengusaha kecil di daerah yang mengandalkan konektivitas udara untuk bisnisnya.
Bagi mereka, kenaikan 13 persen bukan sekadar angka, melainkan sebuah keputusan "jadi berangkat atau tidak?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rahmat-Muhammad-12.jpg)