Opini
Literasi Digital untuk Makassarku
Tahun 2026, Makassar memasuki fase baru pembangunan fisik dan digitalisasi layanan publik. Keberhasilan Smart City bergantung kesiapan warga
Digitalisasi layanan publik kini menyatu dengan reformasi birokrasi, membuat pelayanan lebih transparan, responsif, dan fokus pada kebutuhan warga.
Smart City dan Kapasitas Warga
Namun, keberhasilan jangka panjang LONTARA+ sangat bergantung pada literasi digital warga.
Aplikasi ini dirancang untuk berbagai kelompok, dari pelajar hingga lansia.
Prinsipnya inklusif.
Tetapi inklusivitas teknis tidak otomatis berarti inklusivitas pemahaman.
“Digital literacy has become a key requirement for effective citizenship in an information-intensive society.” - Prof. David Bawden, Journal of Documentation, 2001.
Jika dicermati lebih jauh, Penulis menilai tanpa literasi digital yang memadai, warga berisiko menjadi pengguna pasif.
Mereka hanya mengakses tanpa memahami hak, kewajiban, dan dampak dari interaksi digital tersebut.
Makassar sedang membangun Smart City serta membentuk masyarakat digital yang membutuhkan investasi jangka panjang pada pendidikan, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak pada peningkatan kapasitas warga.
Relasi kota dan warga menjadi titik pijak Penulis dalam membaca Makassar hari ini.
Teknologi berfungsi sebagai instrumen. Penentu arah tetap manusia di balik penggunaannya.
Syahdan, di era disrupsi digital, masa depan kota tidak ditentukan oleh kecanggihan aplikasi, tetapi oleh kecakapan warganya dalam memahami, mengawasi, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Wallahu A'lam Bishawab. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-16-Adekamwa.jpg)