Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Denyut Kota Pelari dan Makassar Half Marathon 2026

Kebersihan dan budaya hidup sehat demi kota yang bermartabat, itulah awal dari tulisan ini.

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
Istimewa
Arief Rachman Nur menulis opini ke tribun timur dengan judul Denyut Kota Pelari dan Makassar Half Marathon 2026 

Oleh:
Arief Rachman Nur
Milenial Makassar

 

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Pagi hari di Kota Makassar kini semakin akrab dengan langkah para pelari. 

Di sepanjang jalan utama AP Pettarani, kawasan Pantai Losari, hingga ruang publik kota, masyarakat mulai menjadikan olahraga lari sebagai bagian dari gaya hidup sehat. 

Namun lebih dari sekadar mengejar kebugaran atau garis finis, muncul pula kesadaran baru bahwa seorang pelari sejatinya juga memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan. 

Kebersihan dan budaya hidup sehat demi kota yang bermartabat, itulah awal dari tulisan ini.

Saya selalu menganut prinsip keteguhan karakter Makassar dengan slogan “Punna stangnga-stangngako assulu'ko, punna tojeng-tojengko ewako.”

Jika setengah-setengah dalam melangkah, lebih baik mundur. Tetapi jika sungguh-sungguh berada di jalan yang benar, maka melangkahlah dengan penuh keberanian dan totalitas.

Filosofi luhur masyarakat Makassar ini bukan sekadar kalimat penyemangat, tetapi mencerminkan karakter kuat yang telah lama melekat dalam kehidupan orang Bugis-Makassar: teguh pendirian, berani, dan tidak plin-plan dalam mengambil sikap.

Semangat ewako mengajarkan bahwa setiap perjuangan harus dijalani dengan kesungguhan. Nilai ini sangat erat dengan falsafah Siri’ na Pacce yang menjadi fondasi moral masyarakat Sulawesi Selatan.

Dalam kehidupan modern, nilai-nilai ini dapat diwujudkan dalam banyak hal sederhana, salah satunya melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Menjaga kebersihan lingkungan sejatinya adalah cerminan siri’. Ada rasa malu ketika melihat sampah berserakan di sekitar rumah, jalanan, atau ruang publik. Lingkungan yang kotor bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menunjukkan rendahnya tanggung jawab sosial. 

Sebaliknya, lingkungan yang bersih mencerminkan moralitas, kehormatan diri, dan martabat masyarakat yang sadar akan pentingnya hidup sehat dan tertib.

Kebersihan lingkungan bukan perkara sepele. Sampah yang menumpuk dapat menjadi sarang penyakit, mencemari air, merusak tanah, bahkan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya, menjaga drainase, serta merawat ruang publik adalah bentuk tanggung jawab kolektif sebagai warga kota.

Dalam semangat itulah, gerakan pelari peduli lingkungan menjadi contoh sederhana namun bermakna. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved