Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Spirit Kurban di Tengah Zaman yang Serba Transaksional

Kurban adalah simbol tentang kesediaan manusia melepaskan sesuatu yang berharga demi ketaatan, kepedulian, dan kemaslahatan bersama.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/ist
TRIBUN OPINI - Yusran, Pendidik SMA Islam Athirah Makassar. Ia penulis opini berjudul Spirit Kurban di Tengah Zaman yang Serba Transaksional 

Oleh : Yusran 

Pendidik SMA Islam Athirah Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Setiap kali Idul Adha tiba, kita kembali menyaksikan pemandangan yang begitu akrab yakni suara takbir berkumandang, hewan kurban mulai berdatangan ke masjid dan sekolah, panitia sibuk menyiapkan tempat penyembelihan, sementara masyarakat menanti pembagian daging kurban dengan penuh harap. Di balik semua kesibukan itu, Idul Adha sesungguhnya tidak hanya menghadirkan peristiwa ritual tahunan, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan yang sangat dalam. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup yang serba cepat, serba hitung-hitungan, dan semakin transaksional.

Kurban bukan sekadar tentang menyembelih sapi atau kambing. Kurban adalah simbol tentang kesediaan manusia melepaskan sesuatu yang berharga demi ketaatan, kepedulian, dan kemaslahatan bersama. Dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., kita menemukan teladan luar biasa tentang keikhlasan. Seorang ayah diuji dengan sesuatu yang paling dicintainya, sementara seorang anak menunjukkan kepasrahan dan keteguhan iman yang begitu menggetarkan. Peristiwa itu bukan hanya kisah masa lalu, melainkan cermin untuk melihat diri kita hari ini.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya sanggup kita korbankan di zaman sekarang? Kita hidup pada masa ketika hampir semua hal mudah diukur dengan untung dan rugi. Pertolongan kadang menunggu balasan. Kebaikan sering ingin segera dipublikasikan. Jabatan, relasi, bahkan persahabatan pun tidak jarang dipandang dari sisi manfaat pribadi. Ada orang yang mau dekat selama ada kepentingan. Ada yang rajin membantu selama namanya disebut. Ada pula yang berbuat baik, tetapi diam-diam menunggu pujian.

Inilah wajah zaman yang serba transaksional. Zaman ketika nilai ketulusan sering kalah oleh kepentingan. Zaman ketika memberi pun kadang masih dihitung “Saya dapat apa?” atau “Nama saya disebut atau tidak?” Padahal, semangat kurban justru mengajarkan sebaliknya. Kurban mengajak manusia memberi tanpa harus selalu kembali kepada dirinya. Kurban mendidik hati agar tidak terlalu melekat pada kepemilikan, pujian, dan pengakuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat kurban dapat hadir dalam bentuk yang sederhana. Seorang ayah yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya sedang berkurban. Seorang ibu yang mengutamakan kebutuhan keluarga daripada keinginannya sendiri sedang berkurban. Seorang guru yang sabar mendampingi murid-muridnya, meski kadang lelah dan tidak selalu dihargai, juga sedang menghidupkan nilai kurban. Begitu pula seorang pemimpin yang rela meninggalkan kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat luas.

Sayangnya, makna kurban sering kali menyempit hanya pada kemampuan membeli hewan. Orang yang berkurban dianggap telah selesai menunaikan kewajiban sosialnya. Padahal, nilai kurban tidak berhenti pada darah yang mengalir atau daging yang dibagikan. Yang lebih penting adalah apakah setelah berkurban hati kita menjadi lebih lembut, lebih peduli, dan lebih mudah berbagi. Jangan sampai hewan telah disembelih, tetapi ego kita tetap hidup subur. Jangan sampai daging telah dibagikan, tetapi kesombongan masih kita pelihara.

Idul Adha 1447 H seharusnya menjadi momentum untuk menata kembali cara kita memandang kehidupan. Di tengah masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi, kesenjangan sosial, dan krisis kepedulian, kurban hadir sebagai jembatan solidaritas. Daging kurban mungkin hanya dinikmati beberapa hari, tetapi rasa diperhatikan dapat tinggal lebih lama di hati penerimanya. Bagi sebagian orang, satu kantong daging kurban bukan sekadar makanan. Ia adalah tanda bahwa mereka tidak sendirian.

Di sinilah letak keindahan kurban. Ia mempertemukan orang yang mampu dengan orang yang membutuhkan. Ia melebur jarak sosial, meskipun hanya untuk sesaat. Orang yang biasa membeli daging kapan saja belajar untuk berbagi. Orang yang jarang menikmati daging mendapat kesempatan merasakan kebahagiaan yang sama. Kurban mengajarkan bahwa rezeki tidak boleh berhenti di tangan pemiliknya. Rezeki harus mengalir, sebab dalam setiap nikmat yang kita terima selalu ada hak orang lain yang perlu ditunaikan.

Kurban juga berarti keberanian melawan sifat rakus dalam diri. Banyak persoalan bangsa ini lahir bukan karena kurangnya orang pintar, tetapi karena kurangnya orang yang sanggup menahan diri. Ada yang diberi amanah, tetapi menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Ada yang punya kuasa, tetapi lupa bahwa jabatan adalah ladang pengabdian. Ada yang kaya, tetapi hatinya miskin kepedulian. Maka, pesan kurban menjadi sangat relevan yakni sembelihlah keserakahan, bukan hanya hewan kurban.

Di tengah budaya pamer yang semakin kuat, kurban pun perlu dijaga dari godaan pencitraan. Tidak salah mendokumentasikan kegiatan kurban untuk kepentingan informasi dan syiar. Tetapi yang harus diwaspadai adalah ketika ibadah berubah menjadi panggung untuk meninggikan diri. Kurban sejatinya mendidik manusia untuk merendah. Hewan kurban boleh besar, tetapi hati orang yang berkurban harus tetap rendah. Sebab yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan pelakunya.

Maka, Idul Adha bukan hanya hari raya penyembelihan, tetapi hari raya pembebasan hati. Kita diajak membebaskan diri dari cinta berlebihan terhadap harta. Membebaskan diri dari keinginan selalu dipuji. Membebaskan diri dari kebiasaan menghitung setiap kebaikan dengan balasan duniawi. Inilah latihan spiritual yang sangat penting, terutama di zaman ketika manusia mudah sekali menjadikan segala hal sebagai transaksi.

Spirit kurban di tengah zaman yang serba transaksional adalah panggilan untuk kembali menjadi manusia yang tulus. Manusia yang tidak selalu bertanya, “Apa untungnya bagi saya?” tetapi mulai bertanya, “Apa manfaatnya bagi orang lain?” Jika pertanyaan kedua itu tumbuh dalam hati kita, maka Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, melainkan jalan untuk memperbaiki diri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan bangsa.

Semoga Idul Adha 1447 H tidak berlalu sebagai rutinitas belaka. Semoga ia meninggalkan bekas dalam cara kita berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesama. Sebab kurban yang paling sejati bukan hanya ketika hewan telah disembelih, tetapi ketika hati kita mulai tunduk, ego kita mulai luluh, dan kepedulian kita mulai tumbuh.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved