Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kolonialisasi AI Terhadap Masyarakat Adat

Dalam sejarah, kolonialisasi sering dikaitkan dengan penjajahan suatu wilayah terhadap sumber daya oleh kekuatan asing.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
OPINI - Yuyun Peneliti pada Pusat Riset Sains data dan Informasi, BRIN 

Ini seolah-olah mengukuhkan ketimpangan, mesin-mesin AI tersebut yang tanpa sadar melanggengkan hierarki Bahasa. 

kibatnya bahasa mayoritas makin dominan dan makin digunakan.

Sementara bahasa daerah mulai terpinggirkan yang bermuara pada kepunahan atau  hilang.

AI seperti penjajah aktif yang ikut berkontribusi pada penghilangan bahasa dalam ruang digital.

Selain case kepunakan bahasa, mesin-mesin AI akan menjadi alat homogenisasi budaya yang mengukuhkan dominasi budaya lain yang tidak selaras dengan local wisdom kita.

Ini bisa dibuktikan dengan kecenderungan respons model-model AI saat ini yang ketika ditanya tentang konteks ke Indonesiaan, justru cenderung menjawab dengan west perspektif.

Budaya lokal sering disederhanakan, sementara nilai-nilai dan konteks sosial-budaya dari komunitas tidak tercermin secara akurat. 

Teknologi AI seperti memproyeksikan pemahaman global yang seragam, yang berakar pada nilai-nilai dominan, menghidari respon terhadap budaya lokal yang kompleks dan kontekstual.

Akibatnya, narasi budaya kita dikuasai oleh kerangka pikir luar, yang berpotensi bias atas asset pengetahuan lokal kita.

Dalam jangka panjang, ini menciptakan standar pengetahuan yang tidak merepresentasikan realitas sosial-budaya Indonesia yang sebenarnya. Ini bukan sekadar hilangnya kata-kata, tetapi juga hilangnya pengetahuan lokal.

Dalam perspektif gender, misalnya,  sistem AI cenderung mengasosiasikan peran dan pemahaman yang bersifat umum atau universal, daripada menggali kompleksitas peran tradisional gender dalam budaya lokal Indonesia.

Pada isu identitas kebangsaan, model lebih banyak mengenali budaya dominan, sementara narasi-narasi lokal seringkali diabaikan atau tidak dikenali.

Dalam aspek kepercayaan, kepercayaan mayoritas yang paling sering muncul dalam data pelatihan cenderung lebih dipahami, sedangkan sistem AI bisa bersikap terlalu netral atau ambigu terhadap tradisi kepercayaan lokalnya.

Dari sisi status sosial-ekonomi, model AI lebih akrab dengan pola hidup kelas menengah-atas, sementara kehidupan masyarakat pedesaan atau komunitas adat yang sarat nuansa budaya sering kali luput dari pemodelan.

Model kesulitan menjelaskan kehidupan masyarakat lokal yang sarat dengan nuansa budaya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved