Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Hadis dan Ilusi Kesalehan Online

Apa yang dulu dianggap cukup untuk diri sendiri, kini terasa “kurang lengkap” kalau belum dibagikan.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Dr. Amrullah Harun, S.Th.I., M.Hum Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palopo 

Oleh: Dr. Amrullah Harun, S.Th.I., M.Hum.

Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palopo

TRIBUN-TIMUR.COM - Di zaman sekarang, kita hidup dalam dunia yang hampir tidak punya batas antara ruang pribadi dan ruang publik.

Apa yang dulu dianggap cukup untuk diri sendiri, kini terasa “kurang lengkap” kalau belum dibagikan.

Makan difoto, jalan-jalan direkam, bahkan momen-momen yang dulu sangat personal kini ikut dipublikasikan.

Fenomena ini tentu tidak berhenti pada aktivitas duniawi saja, tetapi juga merambah ke wilayah yang jauh lebih dalam: ibadah.

Di sinilah persoalannya mulai terasa sensitif. Ibadah yang semestinya menjadi ruang sunyi antara manusia dan Tuhannya, perlahan bergeser menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dinilai, bahkan “direspon” oleh orang lain.

Kalau kita tarik ke dalam perspektif hadis, sebenarnya ada satu fondasi yang tidak pernah berubah, yaitu soal niat. Dalam banyak penjelasan ulama, niat itu seperti “ruh” dari setiap amal.

Apa pun bentuknya—salat, sedekah, puasa—semuanya kembali ke satu pertanyaan sederhana tapi mendasar: ini dilakukan untuk siapa?

Nah, ketika ibadah mulai dipublikasikan, apalagi secara terus-menerus, pertanyaan ini jadi semakin penting.

Bukan berarti setiap orang yang membagikan ibadahnya pasti salah, tetapi ada potensi pergeseran orientasi yang kadang tidak kita sadari.

Dari yang awalnya karena Allah, perlahan bisa saja terselip keinginan untuk dilihat, diapresiasi, atau bahkan dianggap “lebih baik”.

Masalahnya, media sosial memang didesain seperti itu. Ia memberi “hadiah” berupa likes, komentar, dan perhatian.

Semakin sering kita tampil, semakin besar peluang kita mendapatkan respons. Dalam kondisi seperti ini, ibadah bisa saja berubah fungsi—dari yang tadinya murni spiritual menjadi simbol sosial.

Di sinilah konsep riya’ dalam hadis terasa sangat relevan. Riya’ itu tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar atau terang-terangan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved