Opini Kamaruddin Azis
Ontologi IKA dan Pilihan Orang-orang
organisasi bukan sekadar bagan atau badan hukum; ia adalah jaringan hidup yang terdiri dari relasi, makna, dan tindakan terkoordinasi.
Oleh: Kamaruddin Azis
Alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, 1989 / Sekretaris Eksekutif the COMMIT Foundation. Saat ini sebagai Tenaga Ahli untuk PPM PT Vale – The COMMIT Foundation
TRIBUN-TIMUR.COM - Ontologi organisasi merujuk pada hakikat dasar organisasi: apa yang membentuk keberadaannya.
Dalam teori klasik, pemikir seperti Max Weber melihat organisasi sebagai struktur rasional—sistem formal yang terdiri dari peran, aturan, dan otoritas yang dirancang untuk mencapai tujuan secara efisien.
Perspektif yang lebih mutakhir, dipengaruhi oleh Karl Weick, menggeser pandangan tersebut ke arah organisasi sebagai proses berkelanjutan dalam membangun makna (sensemaking)—realitas yang cair dan dikonstruksi secara sosial melalui interaksi, bukan entitas yang statis.
Dari sudut pandang ini, organisasi bukan sekadar bagan atau badan hukum; ia adalah jaringan hidup yang terdiri dari relasi, makna, dan tindakan terkoordinasi.
Sebagai pemegang SK untuk beberapa posisi di Ikatan Alumni seperti IKA SMP I Galesong, Smansa Makassar baik sebagai sekretaris angkatan 89 hingga wakil sekjen bidang Infokom, pernah pula sebagai Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas 2010-2012, pengurus di PP IKA Unhas lalu ikut mewakafkan waktu untuk IKA Wilayah Sulsel, pengurus di IKA Unhas Gowa bahkan didapuk sebagai bagian dari IKA Unhas Takalar, rasanya penulis punya basis pikir dan asa untuk IKA, di mana pun dan siapapun pemimpinnya kelak.
Banyak betul bukan?
Tapi maknailah bahwa kita sungguh ingin menjadi bagian perubahan orientasinya, tentang siapa alumni, apa yang bisa dikontribusikan untuk almamater, masyarakat dan lingkungan internal eksternalnya.
Jadi begini. Kita semua sungguh menyadari bahwa esensi organisasi alumni terletak pada keberlanjutan dan modal relasional.
Jadi, mestinya Ia memperpanjang kehidupan sebuah institusi melampaui masa kelulusan, mengubah pengalaman pendidikan yang sekali terjadi menjadi ekosistem sepanjang hayat.
Dalam bentuk terbaiknya, organisasi alumni bukan sekadar klub sosial—melainkan platform untuk pertukaran pengetahuan, mentoring, penciptaan peluang, dan pembentukan identitas kolektif.
Ia mengikat individu melalui memori bersama sekaligus menggerakkan mereka menuju kolaborasi yang berorientasi masa depan bukan sekadar pesta twibbon setiap Mubes, atau bakar uang dengan pasang baliho sebanyak-banyaknya lalu sayonara atau hibernasi setelah ketua terpilih.
Dengan kata lain, ia adalah jembatan antara warisan dan kemungkinan.
Tapi begitulah, pengalaman penulis menunjukkan banyak organisasi alumni yang tidak efektif—dan penyebabnya lebih bersifat struktural dan kultural daripada kebetulan semata.
Pertama, mereka terjebak dalam nostalgia alih-alih menciptakan nilai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kamaruddin-Azis-Ketua-Bidang-Ekonomi-Kreatif-Selat-Makassar-pada-IKA-Unhas-Sulsel.jpg)