Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kolonialisasi AI Terhadap Masyarakat Adat

Dalam sejarah, kolonialisasi sering dikaitkan dengan penjajahan suatu wilayah terhadap sumber daya oleh kekuatan asing.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
OPINI - Yuyun Peneliti pada Pusat Riset Sains data dan Informasi, BRIN 

Mereka tidak terwakili, tidak dikenal, dan tidak menjadi bagian dari interaksi manusia-mesin.

Inilah bentuk kolonialisasi diam-diam, AI hanya ‘mendengarkan’ bahasa yang dianggap layak secara statistik dan ekonomi. Bahasa dengan penutur sedikit dan tanpa dokumentasi digital tidak akan pernah masuk radar AI.

Padahal, nilai sebuah bahasa tidak terletak pada kuantitas digital, melainkan pada kekayaan budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang dikandungnya.

Kalangan peneliti dalam bidang ini berargumen bahwa bahasa daerah tidak didukung oleh mesin-mesin tersebut karena memang datanya tidak tersedia atau belum pernah dilatih kedalam model AI.

Secara teknis ini benar, tapi justru di sinilah letak kritik, mengapa data itu tidak ada?

Siapa yang memutuskan bahasa mana yang layak didigitalkan dan mana yang diabaikan?

Ketidakhadiran bahasa lokal dalam dataset AI bukanlah kondisi alami, melainkan hasil dari struktur kekuasaan pengetahuan global yang sejak lama meminggirkan bahasa-bahasa kecil. 

Etika model-model besar seperti GPT dan kawan-kawanya hanya membangun kecerdasannya dari bahasa global, mereka ikut memperkuat ketimpangan linguistik dunia, sebuah bentuk kolonialisasi epistemik yang menghapus eksistensi komunitas.

AI hanya mendukung dan memahami bahasa tertentu, dan secara tidak langsung mengabaikan, merendahkan, bahkan menghapuskan eksistensi bahasa lainnya dari lanskap digital.

Apakah mereka netral? Mengapa pengetahuan komunitas tidak ada? Bisa jadi karena masyarakat adat tidak diberi tempat dalam pengembangan teknologi, tidak dilibatkan dalam proses produksi, dan pemilik sistem tidak memberi insentif pada dokumentasi bahasa minoritas.

Mereka cenderung menghindari invertasi besar, dan hanya mau menggunakan data yang telah terdokumentasi secara digital.  

Ketika teknologi asisten virtual hanya mendukung segelintir bahasa besar, maka Penutur bahasa daerah terpaksa harus beradaptasi.

Mereka harus meninggalkan bahasanya untuk bisa terlibat dalam dunia digital.

Mereka mungkin kurang termotivasi untuk belajar atau menggunakan bahasa daerah mereka yang tidak relevan dengan teknologi yang mereka gunakan setiap hari.

Ini menciptakan kesenjangan digital baru dimana Penutur bahasa daerah yang tidak fasih berbahasa mayoritas akan kesulitan mengakses informasi melalui platform digital.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved