Opini
Sejarah yang Istana Sentris
Ia adalah agenda politik ingatan—sebuah upaya negara untuk merawat memori kolektif versi mereka sendiri.
Ironisnya, sejarah resmi semacam ini akan terus menyuburkan ketimpangan dan kekerasan struktural. Perempuan tetap dikurung dalam peran domestik.
Perlawanan dianggap makar. Dan militer masuk ke ruang kelas sebagai simbol kekuasaan sah. Dengan begitu, apa yang disebut Kundera sebagai "melawan lupa" sebenarnya adalah proyek sistemik.
Ia tidak terjadi karena ingatan kita lemah, tapi karena ingatan kita dilumpuhkan. Kita dilatih untuk menerima narasi tunggal.
Maka, melawan lupa hari ini bukan pilihan moral semata. Ia adalah keharusan politik.
Karena bangsa yang sejarahnya dibungkam, hanya akan menjadi bangsa yang rapuh: bangga pada kejayaan yang fiktif, tapi buta terhadap luka di tubuhnya yang belum sembuh.
Ketika bangsa ini memilih untuk menghapus bagian-bagian kelam dari masa lalunya, kita justru sedang menanam bom waktu kultural yang bisa meledak kapan saja.
Luka yang tidak diakui hanya akan diwariskan kepada generasi berikutnya, dalam bentuk ketidakpercayaan, dendam, dan keterputusan sejarah.
Menjaga sejarah adalah bagian dari menjaga republik. Dan menjaga republik berarti memastikan bahwa semua suara—terutama suara yang selama ini dibungkam—mendapat tempat yang layak dalam ingatan kita sebagai bangsa.
| Demokrasi yang Malnutrisi |
|
|---|
| Putusan MK dan Runtuhnya Praktik Multi-Audit Perkara Korupsi |
|
|---|
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Yunasri-Ridhoh-Dosen-Universitas-Negeri-MakassarPeneliti-VVRC.jpg)