Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ngopi Akademik

Inter_ AKSI

Demikian juga terganggunya hubungan kemanusiaan jika terpisah dalam suasana euforia Hari Raya Idul Fitri terpisah satu dengan yang lain.

Editor: Sudirman
dok.tribun
Foto terbaru Dr Rahmat Muhammad, Januari 2025. Rahmat Muhammad adalah pengasuh Kolom Ngopi Akademik yang terbit setiap hari Kamis di Tribun Timur cetak. 

Karena dipandang positif sejak saat itu, halal bihalal menjadi kebiasaan yang terus berkembang dan diadopsi oleh berbagai kalangan sebagai ajang memperkuat persatuan.

Dari perspektif Sosiologi, halal bihalal merupakan gambaran dari  teori interaksionisme simbolik dimana tersirat makna dan simbol dalam hubungan sosial.

Pertemuan fisik secara langsung yang diikuti gerakan tubuh seperti jabat tangan, pelukan, dan ungkapan maaf yang terjadi selama halal bihalal memberi kesan tersendiri yang tidak cukup sebatas ucapan melalui platform media sosial, maknanya mendalam yang tidak hanya bersifat individual tetapi juga sosial.

Momen ini menjadi ruang bagi individu untuk membangun kembali harmoni, meredam konflik, serta meningkatkan modal sosial yang berharga bagi kehidupan bermasyarakat.

Halal bihalal di kampung halaman tentu punya sensasi tersendiri  sehingga argumentasi ini menjadi salah satu alasan, mengapa orang harus mudik itu dimanfaatkan secara optimal di Hari Libur Resmi terutama bagi pekerja kantoran dengan rutinitas yang kadang melelahkan.

Selain itu, halal bihalal juga menjadi refleksi dari konsep solidaritas sosial Emile Durkheim.

Dalam masyarakat modern yang semakin kompleks, solidaritas organik semakin diperlukan untuk menjaga keseimbangan sosial.

Halal bihalal berperan sebagai perekat sosial yang menghubungkan individu-individu dari berbagai latar belakang dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

Namun di era digital saat ini, tradisi halal bihalal juga mengalami transformasi yang dulunya dilakukan secara langsung, kini sudah bisa dilakukan secara virtual melalui media sosial dan aplikasi komunikasi daring.

Meskipun demikian, esensi dari halal bihalal tetap sama, yaitu menjaga hubungan sosial dan memperkuat nilai kebersamaan.

Dengan demikian, halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari kebutuhan manusia untuk terus berinteraksi, memperkuat solidaritas, dan menjaga harmoni sosial.

Dalam suasana Idul Fitri yang masih terasa, halal bihalal menjadi simbol rekonsiliasi dan pembaharuan hubungan sosial yang selaras dengan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sehingga inter_ AKSI yang dimaksud lebih pada Aksi Individual efek Bulan Suci Ramadhan terhadap kelompok masyarakat yang lebih luas diharapkan memberi manfaat pada kesehatan sebagaimana agama mengingatkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur, semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved