Ngopi Akademik
Inter_ AKSI
Demikian juga terganggunya hubungan kemanusiaan jika terpisah dalam suasana euforia Hari Raya Idul Fitri terpisah satu dengan yang lain.
Oleh: Rahmat Muhammad
Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Memisahkan 2 kata ini tentu mengganggu terutama bagi mahasiswa Sosiologi yang sudah jadi sarapan pagi kata interaksi sebagai salah satu konsep.
Demikian juga terganggunya hubungan kemanusiaan jika terpisah dalam suasana euforia Hari Raya Idul Fitri terpisah satu dengan yang lain terasa juga oleh semua umat beragama non Islam.
Bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Mereka senantiasa berinteraksi satu sama lain, membangun hubungan, serta menciptakan jaringan sosial yang dinamis.
Interaksi sosial merupakan kunci utama dalam membangun kebersamaan dan memperkuat solidaritas.
Interaksi ini tidak hanya bersifat spontan, tetapi juga diwadahi dalam berbagai tradisi dan budaya yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat dengan semangat bersama, bersatu dan berjaya.
Salah satu bentuk interaksi yang kental dengan nilai kebersamaan dan persaudaraan adalah tradisi halal bihalal yang dilakukan pasca Hari Raya Idul Fitri di Hari Lebaran.
Halal bihalal merupakan fenomena sosial yang melekat dalam budaya masyarakat Indonesia.
Tradisi ini bukan sekadar ajang untuk berkumpul dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial, baik dalam lingkup keluarga, komunitas, maupun lingkungan kerja.
Berbeda dengan sekadar silaturahmi biasa, halal bihalal memiliki dimensi lebih luas karena sering kali melibatkan kelompok besar, bahkan antar lembaga dan organisasi.
Halal bihalal sendiri memiliki cerita sejarah yang cukup unik bahkan di Negara Arab pun tidak familiar dengan acara ini.
Tradisi ini berkembang di Indonesia sejak masa pasca-kemerdekaan.
Konon, istilah halal bihalal pertama kali dipopulerkan oleh K.H. Wahab Chasbullah, seorang ulama Nahdlatul Ulama, yang menyarankan kepada Presiden Soekarno untuk mengadakan pertemuan nasional guna meredam ketegangan politik di antara elite bangsa.
Karena dipandang positif sejak saat itu, halal bihalal menjadi kebiasaan yang terus berkembang dan diadopsi oleh berbagai kalangan sebagai ajang memperkuat persatuan.
Dari perspektif Sosiologi, halal bihalal merupakan gambaran dari teori interaksionisme simbolik dimana tersirat makna dan simbol dalam hubungan sosial.
Pertemuan fisik secara langsung yang diikuti gerakan tubuh seperti jabat tangan, pelukan, dan ungkapan maaf yang terjadi selama halal bihalal memberi kesan tersendiri yang tidak cukup sebatas ucapan melalui platform media sosial, maknanya mendalam yang tidak hanya bersifat individual tetapi juga sosial.
Momen ini menjadi ruang bagi individu untuk membangun kembali harmoni, meredam konflik, serta meningkatkan modal sosial yang berharga bagi kehidupan bermasyarakat.
Halal bihalal di kampung halaman tentu punya sensasi tersendiri sehingga argumentasi ini menjadi salah satu alasan, mengapa orang harus mudik itu dimanfaatkan secara optimal di Hari Libur Resmi terutama bagi pekerja kantoran dengan rutinitas yang kadang melelahkan.
Selain itu, halal bihalal juga menjadi refleksi dari konsep solidaritas sosial Emile Durkheim.
Dalam masyarakat modern yang semakin kompleks, solidaritas organik semakin diperlukan untuk menjaga keseimbangan sosial.
Halal bihalal berperan sebagai perekat sosial yang menghubungkan individu-individu dari berbagai latar belakang dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
Namun di era digital saat ini, tradisi halal bihalal juga mengalami transformasi yang dulunya dilakukan secara langsung, kini sudah bisa dilakukan secara virtual melalui media sosial dan aplikasi komunikasi daring.
Meskipun demikian, esensi dari halal bihalal tetap sama, yaitu menjaga hubungan sosial dan memperkuat nilai kebersamaan.
Dengan demikian, halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari kebutuhan manusia untuk terus berinteraksi, memperkuat solidaritas, dan menjaga harmoni sosial.
Dalam suasana Idul Fitri yang masih terasa, halal bihalal menjadi simbol rekonsiliasi dan pembaharuan hubungan sosial yang selaras dengan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sehingga inter_ AKSI yang dimaksud lebih pada Aksi Individual efek Bulan Suci Ramadhan terhadap kelompok masyarakat yang lebih luas diharapkan memberi manfaat pada kesehatan sebagaimana agama mengingatkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur, semoga.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.