Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Adakah Isra Tanpa Mi‘raj?

Makna Isra Mi‘raj sebagai keseimbangan gerak sosial dan kedalaman spiritual di era modern saat ini.

Istimewa
OPINI - Muliadi Saleh, salah satu penulis opini Tribun Timur. 

Adakah Isra Tanpa Mi‘raj? 

Oleh: Muliadi Saleh

Esais Reflektif, Arsitek Kesadaran Sosial 

TRIBUN-TIMUR.COM - Peristiwa Isra dan Mi‘raj bukan sekadar kisah agung dalam sejarah kenabian. Ia adalah peta kesadaran.

Sebuah perjalanan ruhani yang tidak hanya memindahkan tubuh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu mengangkat ruh dan kesadarannya menembus langit demi langit hingga Sidratul Muntaha (Mi‘raj).

Pertanyaannya, adakah Isra tanpa Mi‘raj? Atau lebih tajam lagi, adakah perjalanan hidup tanpa pendakian makna? 

Isra adalah gerak horizontal perjalanan di bumi, menyusuri ruang sejarah dan realitas sosial. Mi‘raj adalah gerak vertikal pendakian batin menuju Tuhan, nilai, dan makna tertinggi. Keduanya satu tarikan napas. Tanpa Mi‘raj, Isra hanyalah perpindahan geografis. 

Tanpa Isra, Mi‘raj berisiko menjadi pelarian spiritual yang tercerabut dari realitas. 

Dalam bahasa tasawuf, para sufi menegaskan: “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.” Isra adalah pengenalan terhadap dunia dan diri; Mi‘raj adalah pengenalan terhadap Tuhan. Imam Al-Ghazali melihat Mi‘raj sebagai simbol kenaikan maqam kesadaran.

Dari syariat menuju hakikat. Ibn ‘Arabi memaknainya sebagai perjalanan insan menuju kesempurnaan (al-insan al-kamil). Maka Isra Mi‘raj bukan peristiwa masa lalu, melainkan proses yang terus berlangsung dalam diri manusia yang mencari makna. 

Relevansinya hari ini justru semakin kuat. Kita hidup di zaman yang hiruk-pikuk secara horizontal dimana mobilitas tinggi, teknologi cepat, informasi berlimpah. Namun, banyak yang kehilangan Mi‘raj.  

Tak menemukan keheningan batin, kejernihan nurani, dan orientasi nilai. Kita rajin “Isra” : bepergian, berjejaring, bertransaksi. Tetapi miskin “Mi‘raj”: refleksi, kontemplasi, dan kedalaman spiritual. Akibatnya, kemajuan tak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. 

Isra Mi‘raj juga mempersiapkan kepemimpinan. Nabi SAW mengalami peristiwa ini setelah fase paling berat dalam hidupnya yang disebut dengan tahun kesedihan (‘aam al-ḥuzn).

Sebelum memimpin perubahan besar, beliau ditempa dengan penderitaan, lalu diangkat dengan pencerahan. Pesannya jelas, bahwa pemimpin sejati lahir dari luka yang disembuhkan oleh makna, bukan dari ambisi yang dipoles oleh kekuasaan.

Shalat buah utama Mi‘raj menjadi disiplin kepemimpinan: keteraturan, kehadiran penuh, dan pertanggungjawaban langsung kepada Tuhan. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved