Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Profesor Organik

Mengingat gelar professor merupakan gelar administratif, maka mudah saja seseorang pengusul bisa dihambat dalam proses birokratis yang berbelit.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Ilyas Alimuddin Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi Unhas 

Oleh: Ilyas Alimuddin

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - LINI masa media sosial dipenuhi postingan ucapan selamat ataupun cuplikan video-video pidato pengukuhan Guru Besar Zainal Arifin Mochtar. Sebuah pentas yang bergaung besar.

Pidato dengan penampilan yang menunjukkan ciri khas beliau: gaya retorika yang menarik, narasi yang mengusik dikemas dalam topik yang sangat epik: “Konservatisme Yang Menguat Dan Independensi Lembaga Negara Yang Melemah: Mencari Relasi Dan Mendedah Jalan Perbaikan”.

Pencapaian Prof. Uceng-begitu beliau biasa disapa- adalah sesuatu yang sangat luar biasa, karenanya tak heran jika banyak tokoh-tokoh besar hadir dalam acara tersebut.

Bukan hanya karena pencapaian tersebut dicapai di usia beliau yang relatif muda, tetapi lebih dari itu karena pencapaian tersebut dikontruksi dalam pijakan idealisme dan integritas beliau yang ditunjukkan selama ini.

Pria kelahiran Makassar berdarah Mandar tersebut sejak dulu dikenal tak hanya sebagai seorang akademisi, tetapi juga sebagai seorang aktivis yang lantang menyuarakan suara-suara kebenaran.

Ia lantang mengkritik rezim terutama dalam hal korupsi dan oligarki.

Kritik beliau tajam, argumennya tegas, padat dan cerdas. Ia adalah representasi manusia yang dalam filosofi hidup Bugis-Makassar merefleksikan manusia yang berani (warani), pintar (macca) tegas (getteng), jujur (lempu’) dan selalu mengungkapkan bahasa kebenaran (ada tongeng).

Jika Baharuddin Lopa adalah pendekar hukum sebagai representasi dari praktisi hukum, maka Prof. Uceng pantaslah digelari hal serupa, pendekar hukum sebagai representasi dari akademisi.

Pilihan sikap beliau yang selalu mengkritik tajam pemerintah, membuat banyak yang berpikiran bahwa Prof. Uceng akan sulit menggapai jabatan akademik tertinggi di dunia kampus. Pemikiran ini adalah sesuatu yang wajar.

Mengingat gelar professor merupakan gelar administratif, maka mudah saja seseorang pengusul bisa dihambat dalam proses birokratis yang berbelit.

Namun, Prof. Uceng membalikkan kekhawatiran tersebut. Beliau tetap mampu mencapai gelar professor tanpa perlu mengubah sikap dan idealisme. Menjadi guru besar tanpa perlu berwajah manis apalagi menjadi penjilat kekuasaan.

Suatu sikap hidup yang sangat ksatria. Di saat yang sama saat ini, tak sedikit individu yang karena ingin merasakan sedikit nikmat dunia mengubah idealismenya.

Menjadi pelacur intelektual seperti yang diucapkan oleh Soe Hok Gie. Intelektual yang tak lagi berpijak pada bahasa kebenaran, tetapi menjadi intelektual yang berpihak pada siapa yang bayar. Pendapatnya tergantung pendapatan!

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved