Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Resensi Buku Sang Pembebas

Novel Sejarah Sang Pembebas Karya Halilintar Lathief: Semiotika di Balik Kisah Arung Palakka

Frasa "Sang Pembebas" tidak hanya bermakna memerdekakan masyarakat Bugis dari penguasaan Suku Makassar. Akan tetapi, semiotika "Sang Pembebas" …

|
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Pembedah, penulis, dan peserta Bedah Buku Arung Palakka Sang Pembebas di Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologia Indonesia Timur (STFT Intim) Jalan Baji Dakka No 7 Makassar, Kamis, 20 Februari 2025. Hadir Ketua STFT INTIM di Makassar Pendera Lidya K Tandirerung, Budayawan seperti Yudhistira Sukatanya, Wanua Tangke, Muh Isra DS, dan Abdul Hamid Tenro Petta Gassing. 

Sultan Harun Al Rasyid dari Tallo, Karaeng Karunrung, dan Arung Matowa Wajo La Tenrilai bersatu dalam perlawanan, menolak perjanjian yang dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri Gowa."(Halaman 225)

5. Penurunan Konflik (Antiklimaks)

Di tengah kekecewaan rakyat Gowa bersama sekutu atas jatuhnya Benteng Ujung Pandang serta penandatanganan naskah Perjanjian Bongaya, pengarang mulai menawarkan narasi solutif melalui indeksikalitas kesadaran dalam diri Sultan Hasanuddin. 

Penanda kesadaran tersebut menjadi penyelesaian dari serangkaian konflik kepentingan kedua suku besar, Makassar dan Bugis. 

Hal ini diungkapkan pengarang secara tekstual, dalam percakapan La Tenrilai Arung Matowa Wajo bersama Sultan Hasanuddin.

 "... Karaeng, sepuluh ribu orang Wajo menyertai saya kemari. Bila mati semua, barulah Gowa mengaku kalah! Dan Si Gondrong itu, baru akan kuakui sebagai lelaki sejati jika ia mampu mengalahkanku dalam pertarungan satu lawan satu !" 

Ucapan tersebut dibalas oleh Sultan Hasanuddin:

"... Wahai keluargaku, mundurlah ke Wajo untuk mencari kebaikan. Kelak, negeri kita akan bertemu dalam kebaikan itu." (Hal.226).

Dari kontemplasi berbagai peristiwa, Sultan Hasanuddin menyimpulkan bahwa perang ini bukan lagi perang antara Gowa dan Bone, melainkan perang antar sesama orang Makassar dan Bugis. 

Ada perjanjian sebelumnya antara Raja Gowa XII Karaeng Tunijallo dengan Raja Bone VII La Tenrirawe Bongkange. 

Perjanjian itu menjadi simbol bersatunya dua kerajaan besar yang ditandai dengan peletakan senjata pusaka Gowa "Sudanga", dan "La Teyariduni" Bone sejajar di Istana Kerajaan Gowa. Pelanggaran atas perjanjian ini menjadi tanda pengkhianatan di antara dua sahabat.

6) Pemecahan Soal (Denouement)

Novel "Sang Pembebas" tergolong cerita ideologis yang berkonten sejarah penegakan nilai-nilai kemanusiaan. 

Gowa berjuang menegakkan harga diri rakyatnya dari serangan Belanda, sedang Bone berjuang membebaskan negerinya dari penguasaan Kerajaan Gowa. 

Novel ini berisi sudut pandang pengarangnya. Lewat pisau imajinasi, Halilintar Lathif selaku pengarang, berhasil merekam jejak peristiwa heroistik tentang penegakan "siriq na pesse" di kalangan masyarakat Bugis, khususnya Bone dan Soppeng yang saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Gowa.

 Sudut pandang ini, tentu berangkat dari pengamatan, pembacaan dan penafsirannya terhadap referensi kesejarahan yang melatari ketokohan Arung Palakka sebagai "Sang Pembebas".

Frasa "Sang Pembebas" tidak hanya bermakna memerdekakan masyarakat Bugis dari penguasaan Suku Makassar. Akan tetapi, semiotika "Sang Pembebas" juga berorientasi pada gerak kesadaran nurani untuk menghimpun kekuatan lawan, kemudian merasionalisasi ke dalam bentuk kebersamaan hidup. Hal ini disikapi Arung Palakka dengan membangun otoritas Bugis dan Makassar sebagai dua suku di dalam bingkai budaya leluhur yang sama. Pengarang mengedepankan hal ini dalam narasi sebagai berikut:

 "... Situasi mulai berubah setelah Arung Palakka semakin berpengaruh. Semua surat-surat perjanjian dan surat-surat resmi yang ditandatangani oleh Arung Palakka menggunakan istilah Bugis-Makassar, dua suku yang semula berbeda dan bertikai dijadikan satu kata sebagai  satu kesatuan yang tak terpisahkan". (Halaman 225).

 Narasi di atas menjawab keraguan orang terhadap sikap intolelansi Arung Palakka dalam cita-cita membela negerinya dari gangguan penjajah bangsa lain. 

Hal ini dibuktikan dengan upayanya merangkul raja-raja di Sulawesi, bahkan, dari kalangan yang pernah menjadi musuhnya seperti Gowa dan Luwu.

Strategi "Politik Ranjang" yang dilakukan Arung Palakka, dengan cara menyatukan rumpun keluarga melalui perkawinan antar suku dan wilayah, berhasil membangun kekuatan yang besar.

 Arung Palakka menyadari bahwa persatuan yang kuat tidak harus dibangun dengan senjata, tapi juga bisa melalui perkawinan. Dan strategi inilah yang dilakukan "Sang Pembebas" untuk mempersatukan dua suku besar dalam satu nama: Bugis-Makassar.

III. Penutup

Sebagai penutup, saya ingin menyatakan bahwa teknik bercerita novel ini tergolong lancar, mengalir dari sumber realitas melalui imaji pengarang. 

Momen-momen kesejarahan sangat jelas menguasai seluruh halaman cerita. Walaupun tertata rapi, namun hadirnya sub-subjudul yang terkesan berlomba menjejali halaman buku, membuat imajinasi pembaca terhambat. 

Kias atau bahasa metafora berhasil dimanfaatkan oleh pengarang sebagai media tutur yang menarik. Namun demikian, gaya metafora tersebut belum jauh mendongkrak dimensi pengembangan imaji melalui bumbu cerita yang lebih romantis. Karena itu, novel ini terkesan amat "sejarahwi" dibanding "sastrawi".

Satu hal lagi, pemberian judul "Sang Pembebas" dengan teknik semiotika hermeneutik kurang tepat. Ikonisitas tipologi berupa foto saja tanpa identitas nama, tidak menggoda daya minat pembaca. 

Demikian pula cover belakang, sebaiknya ditata dengan warna yang manis. Medan cover diupayakan tidak disesaki oleh jejeran kalimat panjang.

Pengarang memiliki power estetis yang kuat dalam menggarap cerita ini. 

Seandainya power tersebut diseriusi dengan mengangkat nilai sastranya di atas konten sejarah maka pasti lebih menarik dan enak dicerna. Ya, namanya novel, tentu getah sastranya harus menonjol sebagai pilihan utama.

Demikian. Salam Kedaulatan  Budaya.(HABIS)

Mks, 23 Feb. 2025

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved