Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Di Balik Narasi Kemajuan: Membaca Retakan dalam Praktik Pendidikan Kontemporer

Hari Pendidikan Nasional diperingati, ruang publik kita dipenuhi dengan narasi optimisme: transformasi digital, kurikulum

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
Mahasiswi UIN Palopo dan guru madrasah, Sudarmin Tandi Pora’ 

Sudarmin Tandi Pora’

Mahasiswi UIN Palopo, Guru Madrasah

SETIAP kali Hari Pendidikan Nasional diperingati, ruang publik kita dipenuhi dengan narasi optimisme: transformasi digital, kurikulum yang semakin adaptif, serta komitmen negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan seolah bergerak maju dengan kecepatan yang menjanjikan.

Namun, di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar dan kerap terabaikan: apakah kemajuan yang kita rayakan benar-benar menyentuh substansi pendidikan, atau sekadar bergerak di permukaan strukturalnya?

Narasi kemajuan pendidikan hari ini memang tidak dapat sepenuhnya disangkal.

Integrasi teknologi dalam pembelajaran telah membuka akses yang lebih luas terhadap sumber belajar.

Guru dan siswa kini dapat terhubung dengan pengetahuan global tanpa batas geografis.

Pendekatan pembelajaran juga semakin variatif, dengan penekanan pada kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.

Dalam kerangka tertentu, ini adalah lompatan signifikan dari model pendidikan yang sebelumnya cenderung statis dan seragam.

Namun demikian, kemajuan tersebut menyimpan retakan yang perlu dibaca secara jernih.

Pertama, terdapat kecenderungan reduksionisme dalam memaknai transformasi pendidikan.

Baca juga: Perempuan Multiperan di Era Kompleksitas

Perubahan sering kali direduksi menjadi persoalan teknis—pergantian kurikulum, digitalisasi perangkat ajar, atau peningkatan indikator kuantitatif—tanpa diiringi dengan refleksi filosofis yang memadai tentang tujuan pendidikan itu sendiri.

Akibatnya, pendidikan kehilangan orientasi dasarnya sebagai proses pemanusiaan manusia, dan bergeser menjadi sekadar mekanisme produksi capaian akademik.

Kedua, ketimpangan akses masih menjadi persoalan laten yang belum terselesaikan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved