Resensi Buku Sang Pembebas
Novel Sejarah Sang Pembebas Karya Halilintar Lathief: Semiotika di Balik Kisah Arung Palakka
Frasa "Sang Pembebas" tidak hanya bermakna memerdekakan masyarakat Bugis dari penguasaan Suku Makassar. Akan tetapi, semiotika "Sang Pembebas" …
Pengarang memperkenalkan latar keadaan, tempat dan para pendukung tokoh utama (protagonis), tokoh penentang (antagonis), serta tokoh-tokoh netral (triantagonis) dalam cerita.
Eksposisi ini diawali dengan semiotika-ikonisitas metafora melalui gambaran situasi Istana Lalebbata di tahun 1626 ketika La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh (putra Mangkau Raja Bone ke-11, La Tenriruwa, bergelar Sultan Adam MatinroE ri Bantaeng) menduduki tahta sebagai Raja Bone ke-13.
Seterusnya eksposisi tokoh, tempat, suasana serta peristiwa dapat dibaca pada seluruh bagian dan subbagian dalam plot cerita.
2. Peristiwa Mulai Digerakkan (Generating Circumstances)
Pada halaman 4 hingga 78, pengarang menggambarkan riak-riak di dalam istana berupa pertentangan paham antara La Maddaremmeng (Raja Bone XIII dengan ibunya, We Tenrisoloreng Makkalarue Datu Pattiro menyangkut rencana penghapusan sistem perbudakan di Kerajaan Bone.
Konflik internal di Istana Lalebbata ini memicu ketegangan yang diawali dari Ultimatum Raja Gowa XV kepada Raja Bone XIII agar tidak menerapkan kebijakan penghapusan sistem perbudakan dimaksud. Riak-riak ini memicu hadirnya konflik di kalangan keluarga bangsawan hingga runtuhnya Kerajaan Bone selama 18 tahun tanpa dipimpin seorang Mangkau.
Peristiwa kesejarahan yang dikisahkan itu menjadi petanda (signifier) kerenggangan hubungan antara Bone dan Gowa.
3. Peristiwa Mulai Memuncak (Rising Action)
Pengarang melukiskan sebab utama (kausaprima) munculnya ketegangan (konflik) antara Gowa dan Bone setelah La Tenritatta mengetahui penyebab kematian ayahnya, La Pottobunne To Basse Datu Lampulle Arung Tana Tengnga.
Perasaan dendam akibat terbunuhnya ayahnya secara sadis, dan kesaksian atas penindasan rakyat Bugis oleh mandor-mandor bengis di bawah pengawasan Karaeng Karunrung memancing nyali pemberontakan di hati La Tenritatta.
Semiotika- Indeksikalitas atau papan bicara mengenai kebengisan mandor pekerja paksa ini, dapat dibaca pada narasi berikut.
"... Rambut pria tua itu sudah memutih sepenuhnya, tubuhnya kurus kering dan kulitnya sudah penuh luka akibat pukulan berulang kali. Mandor itu berteriak-teriak, menuduh pekerja tua itu malas, dan dengan cambuk di tangannya, ia tidak henti-hentinya memukul. ‘Cepat bangun, pemalas! Kau pikir hanya karena kau tua, kau bisa menghindari pekerjaan ?’”(Halaman 65).
4. Peristiwa Mencapai Puncak (Climax)
Dari serangkaian bagian dan subbagian yang membangun alur penceritaan, akhirnya pengarang menyajikan puncak peristiwa yaitu terjadinya perang antara Arung Palakka yang didukung oleh tentara Belanda melawan Kerajaan Gowa bersama sekutunya.
Semiotika perang dinyatakan melalui indeksikalitas penandatanganan Perjanjian Bungaya, yang orang Makassar menyebutnya "Cappaya ri Bungaya" dan Belanda menyebut "Het Bongaisch verdraag" (1667). Lukisan peristiwa ini dapat kita dibaca sebagai berikut. "Rakyat dan prajurit Gowa tak lagi bisa menahan amarah mereka. Seperti api yang tersulut, protes dari para pemimpin perang semakin deras setelah jatuhnya Benteng Ujungpandang dan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Bedah-Buku-Arung-Palakka-Sang-Pembebas-3.jpg)