Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Resensi Buku Sang Pembebas

Novel Sejarah Sang Pembebas Karya Halilintar Lathief: Semiotika di Balik Kisah Arung Palakka

Frasa "Sang Pembebas" tidak hanya bermakna memerdekakan masyarakat Bugis dari penguasaan Suku Makassar. Akan tetapi, semiotika "Sang Pembebas" …

|
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Pembedah, penulis, dan peserta Bedah Buku Arung Palakka Sang Pembebas di Sekolah Tinggi Filsafat dan Theologia Indonesia Timur (STFT Intim) Jalan Baji Dakka No 7 Makassar, Kamis, 20 Februari 2025. Hadir Ketua STFT INTIM di Makassar Pendera Lidya K Tandirerung, Budayawan seperti Yudhistira Sukatanya, Wanua Tangke, Muh Isra DS, dan Abdul Hamid Tenro Petta Gassing. 

Tema Novel "Sang Pembebas" tercermin dari judul buku tersebut. Frasa "Pembebas" menjadi ikonisitas struktural subjek yang melakukan serangkaian tindakan membebaskan suatu objek dari keadaan yang menekannya. 

Pengarang, dalam konteks tematik ini, menempatkan sosok Arung Palakka sebagai pejuang kemanusiaan yang telah membebaskan rakyat Bugis (Bone dan sekutunya) dari cengkeraman kekuasaan Kerajaan Gowa. Tema ini menjadi pokok pikiran pengarang yang terkondensasi secara imajinatif ke dalam alur cerita.

B. Tokoh dan Penokohan

Tokoh utama, yang juga karakter protagonis novel ini yaitu La Tenritatta To Unruq Daeng Serang Petta Malampeqe gemmeqna-Arung Palakka, Raja Bone XIV yang hidup di abad ke-17 Masehi. Sedang Tokoh antagonisnya adalah Karaeng Karunrung, Mangkubumi Kerajaan Gowa di zaman pemerintahan I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI.

Penokohan keduanya dalam novel ini merupakan petanda (signified) hadirnya dua kerajaan besar dalam subkultur masing-masing, yakni: Kerajaan Bone di wilayah masyarakat Bugis dan Kerajaan Gowa pada wilayah masyarakat  Makassar. 

Pengarang, secara kronologis berhasil menyinergikan antara tema sentral dan penokohan kedua tokoh itu dalam rangkaian plot cerita yang apik.

Di balik gelar Daeng Serang dan Petta Malampeqe gemmeqna, terselubung  makna yang mengeksposisi peristiwa masa lalu. Sejak usia 15 tahun dan hidup di lingkungan istana Raja Gowa, La Tenritatta banyak mendapat ilmu dari Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi Kerajaan. 

Dia tekun belajar membaca hurup serang (bahasa Makassar atau Bugis menggunakan aksara Arab). Karena kepahamannya itu, ia diberi gelar nama "Daeng Serang". Narasi ikonisitas ini dapat dibaca sebagai berikut:

“Sudah menjadi tradisi orang  Makassar, setiap insan yang mencapai akil balig atau mencapai jenjang tertentu dalam masa siklus hidupnya, harus diberi nama alias sesuai capaiannya saat itu. La Tenritatta diberi nama Daeng Serang oleh tuannya, Karaeng Pattingalloang, karena kegemarannya membaca buku-buku yang berhurup serang, yakni hurup Arab yang berbahasa Bugis atau Makassar atau berbahasa Melayu". (Halaman 33-34).

Petta Lampeq Gemmeq yang disandangnya tidak luput dari semiotika-indeksikalitas, yakni simbol perlawanan yang belum berakhir.

 "Aku takkan memotong rambutku ini", ujarnya sambil mengelus rambut panjangnya yang hitam lebat. "Aku akan membiarkan rambutku panjang. Bila kelak aku kembali ke tanah Bugis dengan kehormatan, aku akan memotong rambut ini sebagai tanda kemenangan kita semua." (Halaman 159).

Demikian sumpah Arung Palakka yang diucapkan di atas  Bukit Campalagi, sebelum meninggalkan Tanah Bugis menuju Buton, disaksikan sahabatnya Arung Bila dan Arung Ampanang.

C. Plot atau Alur Cerita 

Novel ini dibangun melalui unsur-unsur plot atau alur cerita, antara lain:

1. Latar Cerita (Situation)

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved