Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Resensi Buku Sang Pembebas

Novel Sang Pembebas, Kisah Arung Palakka dari Sisi Lain

Novel yang memiliki 270 halaman itu menceritakan Raja Bone ke-15, Aru Palakka sebagai sang pembebas dari perbudakan.  

|
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Alfian
Tribun-Timur.com/Kaswadi Anwar
BEDAH BUKU - Penulis Novel Sejarah Sang Pembebas, Prof Halilintar Lathief (tengah) bersama Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur, AS Kambie (kanan) dan Kritikus Sastra, Budayawan, Andi Mahrus Andis (kiri) dalam dialog budaya di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Theologia Indonesia Timur (STFT INTIM), Jl Baji Dakka, No 7, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis (20/2/2025). Novel Sang Pembebas membahas sosok Raja Bone, Aru Palakka. 

 
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Karya novel sejarah, Budayawan Sulawesi Selatan (Sulsel), Prof Halilintar Lathief berjudul Sang Pembebas dibedah dalam dialog budaya.

Novel yang memiliki 270 halaman itu menceritakan Raja Bone ke-15, Arung Palakka sebagai sang pembebas dari perbudakan.  

Dialog budaya ini digelar di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Theologia Indonesia Timur (STFT INTIM), Jl Baji Dakka, No 7, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis (20/2/2025).

Hadir sebagai pembedah Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Tribun Timur, AS Kambie (delapan dari kanan) dan Kritikus Sastra, Budayawan, Andi Mahrus Andis. Dimoderatori langsung oleh Prof Halilintar Lathief.

Penulis Novel Sejarah Sang Pembebas, Prof Halilintar Lathief (sembilan dari kiri) bersama Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur, AS Kambie (delapan dari kanan) dan Kritikus Sastra, Budayawan, Andi Mahrus Andis (delapan dari kiri) dalam dialog budaya di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Theologia Indonesia Timur (STFT INTIM), Jl Baji Dakka, No 7, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis (20/2/2025). Novel Sang Pembebas membahas sosok Raja Bone, Aru Palakka. 
Penulis Novel Sejarah Sang Pembebas, Prof Halilintar Lathief (sembilan dari kiri) bersama Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur, AS Kambie (delapan dari kanan) dan Kritikus Sastra, Budayawan, Andi Mahrus Andis (delapan dari kiri) dalam dialog budaya di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Theologia Indonesia Timur (STFT INTIM), Jl Baji Dakka, No 7, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Kamis (20/2/2025). Novel Sang Pembebas membahas sosok Raja Bone, Aru Palakka.  (TRIBUN-TIMUR.COM/KASWADI)

Turut hadir, Ketua STFT INTIM di Makassar, Pdt Lidya K. Tandirenung, pegiat budaya dan sejarah serta mahasiswa STFT INTIM.

Hadir juga Budayawan seperti Yudhistira Sukatanya, Wanua Tangke, Muh Isra DS, dan Abdul Hamid Tenro Petta Gassing.

Wapemred Tribun Timur, AS Kambie mengatakan, novel Sang Pembebas ini menggambarkan sisi lain dari Aru Palakka dari buku lain yang telah dibacanya.

Ia menuturkan, di buku lain Aru Palakka digambarkan sebagai pendendam, ambisius dan suka marah-marah.

Bahkan, ada buku menggambarkan Aru Palakka berdiri di geladak kapal Belanda memandang Benteng Somba Opu yang sedang terbakar sembari tertawa.

“Ternyata kalau dibaca buku ini Aru Palakka tak seperti itu, tak pernah disebut Aru Palakka menyerang Gowa, tak disebutkan pula berperang dengan Gowa,” katanya saat pemaparan.

AS Kambie melanjutkan, Prof Halilintar dalam bukunya menggunakan diksi yang sopan sekali, yaitu Aru Palakka datang menghukum Kerajaan Gowa.  

Aru Palakka datang menghukum Kerajaan Gowa karena dianggap melanggar Perjanjian Sitettongenna Sudeng’nge Lateya Riduni.

“Inilah yang ingin ditegakkan oleh Aru Palakka, makanya Aru Palakka berkesimpulan Kerajaan Gowa harus dihukum,” paparnya.

AS Kambie menyebut, dalam buku ini sang pembebas bukan hanya Aru Palakka.

Ada juga sosok Karaeng Pattingalloang yang membebaskan Kerajaan Gowa dari kegelapan menuju ilmu pengetahuan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved