Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Potret Toleransi Umat Beragama di Jantung Sulawesi

Karena pada dasarnya ajaran agama dapat di sebut agama ketika mengajarkan kedamaian kepada penganutnya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM
Opini koran Tribun Timur edisi, Senin 12 Februari 2024. 

Sering kali isu politik menjadi penyebab utama rusaknya hubungan antara pemeluk agama.

Hal itu disebabkan oleh sekelompok orang yang berperan dalam politik dan mengatas namakan agama untuk mengecap kelompok lain berada pada pilihan politik yang salah.

Hal tersebut yang kemudian membuat kehadiran persoalan-persoalan yang berbau politik tidak lagi baik di kalangan pemeluk agama.

Dan hal ini tentu bertentangan dengan pendapat Gus Dur bahwa, tidak ada paksaan terhadap orang lain untuk mengikuti pendapat yang di anggap benar.

Di samping keharmonisan antar umat beragama yang ada di tanah Seko, isu politik adalah salah satu aspek yang memengaruhi keharmonisan yang ada di daerah tersebut.

Contoh yang sering kali di dapatkan ketika masyarakat Seko dipecahkan oleh isu politik adalah ketika pemilihan Kepala Desa.

Hal itu dikarenakan ketika kandidat yang mencalonkan untuk maju sebagai calon Kepala Desa ada yang beragama Islam dan ada pula yang beragama Kristen.

Masyarakat Seko seharusnya menyadari bahwa doktrin antar pemeluk agama merupakan suatu hal yang tidak baik ketika masa politik berlangsung.

Merasa lebih benar dari kelompok lain adalah suatu kekeliruan yang nyata terjadi pada kalangan masyarakat.

Apakah memang hanya dengan isu politik pemilihan kepala Desa saja keharmonisan antar umat beragama bisa menjadi runtuh?

Bagaimana dengan pemilihan Bupati dan Gubernur, atau bahkan pemilihan Presiden?

Tentu saja hal itu sangat tidak layak terjadi di masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Oleh karena itu, membangun kesadaran terhadap umat beragama merupakan kuncinya.

Membangun lingkungan yang harmonis dan rukun memang bukanlah suatu hal yang mudah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi jika umat beragama tidak mengusahakannya. Semua agama telah menegaskan bahwa tujuan hidup beragama adalah kedamaian.

Berpegang teguh kepada istilah atau petuah yang di wariskan oleh nenek moyang seperti yang ada pada masyarakat Seko, adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang akan selalu menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama dan juga kebersamaan dalam hidup berdampingan.

Perbedaan adalah anugerah yang di miliki oleh setiap kepercayaan atau agama.

Keindahan akan terlihat karena adanya perbedaan. Begitu pula dengan Indonesia yang sangat kaya dengan keberagaman ini.

Maka dari itu, di negeri plural ini mari membangun kehidupan yang harmonis antar umat beragama dengan kesadaran beragama dan penuh toleransi.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved