Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Potret Toleransi Umat Beragama di Jantung Sulawesi

Karena pada dasarnya ajaran agama dapat di sebut agama ketika mengajarkan kedamaian kepada penganutnya.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM
Opini koran Tribun Timur edisi, Senin 12 Februari 2024. 

Oleh: Sulham Faudzil Adim

Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin Makassar

 

TRIBUN-TIMUR.COM - Abdurrahman Wahid atau yang biasa di sapa Gus Dur, di dalam buku yang berjudul “Berislam Secara Toleran”, yang di tulis oleh seorang alumni Universitas Al-Azhar di Mesir bernama Irwan Masduqi, mengatakan bahwa Toleransi memang mengizinkan seseorang untuk memperkenalkan kepercayaannya kepada orang lain namun tidak ada paksaan untuk menerimanya.

Seperti yang diketahui, semua ajaran agama mengajarkan ajaran kedamaian.

Bahkan hal itu merupakan suatu hal yang mutlak bagi sebuah ajaran agama.

Karena pada dasarnya ajaran agama dapat di sebut agama ketika mengajarkan kedamaian kepada penganutnya.

Untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam beragama, berdialog dengan orang-orang yang berbeda iman merupakan salah satu jalan untuk membangun kesadaran umat beragama.

Dalam hal ini yang paling berperan adalah para pemuka agama.

Karena para pemuka agama merupakan orang-orang yang memiliki pemahaman atas ajaran agama, sehingga mereka mampu untuk memberikan cerminan terhadap masyarakat awam untuk saling memahami dengan penganut agama lain.

Toleransi di Tanah Seko

Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, budaya, bahasa dan agama.

Di Indonesia terdapat begitu banyak kekayaan akan keberagaman yang melimpah.

Salah satunya dapat kita lihat dari daerah pelosok negeri, seperti di tanah Seko.

Seko adalah suatu daerah yang merupakan Kecamatan yang terletak di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan, yang letaknya juga berbatasan langsung dengan dua Provinsi, yaitu Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, sehingga daerah Seko mendapat julukan sebagai jantung Sulawesi.

Nurdin Abdullah yang merupakan mantan Gubernur Sulawesi Selatan mengatakan bahwa keberadaan daerah Seko yang terletak di antara tiga Provinsi tersebut membuat tanah Seko layak mendapat julukan sebagai Segitiga Emas di pulau Sulawesi.

Di Seko, selain terkenal dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah, Seko juga di kenal akan keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama di daerah tersebut.

Seko adalah daerah dengan dua agama besar yang menjadi kepercayaan kebanyakan masyarakat Seko yaitu Islam dan Kristen.

Adapun kepercayaan lain seperti agama Hindu, itu hanya dibawa oleh orang-orang pendatang di daerah Seko.

Keharmonisan antar umat beragama yang ada di Seko begitu dirasakan oleh masyarakat.

Hal itu dibuktikan dengan toleransi yang dilakukan antar pemeluk agama yang ada di Seko baik yang beragama Islam maupun yang
beragama Kristen.

Masyarakat membudayakan nilai penting dari kebebasan beragama.

Contohnya, ketika masyarakat Seko melakukan hari raya keagamaan, yang mana setiap agama akan melakukan hari rayanya dengan penuh suka cita tanpa adanya batasan-batasan di antara masyarakat.

Menurut salah satu tokoh adat Seko bernama Abraham Taburu, mengatakan bahwa orang Seko yang terdiri dari beraneka ragam budaya mengenal istilah “makalebu tulu manoko ni sang tangko’ ” yang artinya telur ayam yang utuh berada di dalam satu tempat atau penutup makanan. Istilah ini memiliki makna secara filosofis bagi masyarakat Seko.

Istilah tersebut memiliki makna di antaranya, “makalebu tulu manoko” (telur ayam yang utuh) melambangkan perbedaan yang berada dalam satu kesatuan seperti telur ayam yang terdiri dari tiga bagian, kulit, putih dan kuning yang menjadi satu kesatuan yang utuh, kemudian “ni sang tangko’”(di dalam satu tempat atau penutup makanan) merupakan simbol atau lambang dari tempat atau
suatu daerah yang dihuni oleh sekelompok masyarakat.

Secara garis besar, istilah yang muncul pada masyarakat Seko tersebut memiliki pengertian bahwa sekalipun kita berbeda agama dan ras, namun kita tinggal atau berada di satu tempat.

Sehingga sudah seharusnya membangun kesadaran untuk saling menghargai dan menerima perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat merupakan kunci dari keharmonisan di suatu daerah atau tempat.

Aspek-aspek yang Memengaruhi Toleransi di Tanah Seko Masyarakat yang harmonis adalah sebab dari masyarakat yang hidup saling menghargai dan saling memberi ruang antar umat beragama.

Namun di samping itu, ada beberapa hal atau aspek yang terkadang menyebabkan hubungan yang harmonis itu menjadi goyah.

Di antaranya disebabkan oleh isu politik, dan hal itu merupakan salah satu penyebab utama runtuhnya keharmonisan antar umat beragama, khususnya di daerah Seko.

Sering kali isu politik menjadi penyebab utama rusaknya hubungan antara pemeluk agama.

Hal itu disebabkan oleh sekelompok orang yang berperan dalam politik dan mengatas namakan agama untuk mengecap kelompok lain berada pada pilihan politik yang salah.

Hal tersebut yang kemudian membuat kehadiran persoalan-persoalan yang berbau politik tidak lagi baik di kalangan pemeluk agama.

Dan hal ini tentu bertentangan dengan pendapat Gus Dur bahwa, tidak ada paksaan terhadap orang lain untuk mengikuti pendapat yang di anggap benar.

Di samping keharmonisan antar umat beragama yang ada di tanah Seko, isu politik adalah salah satu aspek yang memengaruhi keharmonisan yang ada di daerah tersebut.

Contoh yang sering kali di dapatkan ketika masyarakat Seko dipecahkan oleh isu politik adalah ketika pemilihan Kepala Desa.

Hal itu dikarenakan ketika kandidat yang mencalonkan untuk maju sebagai calon Kepala Desa ada yang beragama Islam dan ada pula yang beragama Kristen.

Masyarakat Seko seharusnya menyadari bahwa doktrin antar pemeluk agama merupakan suatu hal yang tidak baik ketika masa politik berlangsung.

Merasa lebih benar dari kelompok lain adalah suatu kekeliruan yang nyata terjadi pada kalangan masyarakat.

Apakah memang hanya dengan isu politik pemilihan kepala Desa saja keharmonisan antar umat beragama bisa menjadi runtuh?

Bagaimana dengan pemilihan Bupati dan Gubernur, atau bahkan pemilihan Presiden?

Tentu saja hal itu sangat tidak layak terjadi di masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Oleh karena itu, membangun kesadaran terhadap umat beragama merupakan kuncinya.

Membangun lingkungan yang harmonis dan rukun memang bukanlah suatu hal yang mudah, dan hal itu tidak akan pernah terjadi jika umat beragama tidak mengusahakannya. Semua agama telah menegaskan bahwa tujuan hidup beragama adalah kedamaian.

Berpegang teguh kepada istilah atau petuah yang di wariskan oleh nenek moyang seperti yang ada pada masyarakat Seko, adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang akan selalu menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama dan juga kebersamaan dalam hidup berdampingan.

Perbedaan adalah anugerah yang di miliki oleh setiap kepercayaan atau agama.

Keindahan akan terlihat karena adanya perbedaan. Begitu pula dengan Indonesia yang sangat kaya dengan keberagaman ini.

Maka dari itu, di negeri plural ini mari membangun kehidupan yang harmonis antar umat beragama dengan kesadaran beragama dan penuh toleransi.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved