Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Paradoks Kekayaan Alam Luwu Raya

Namun, ketika ditanya apakah kehidupan masyarakat di sekitarnya ikut berubah secara signifikan, ia hanya tersenyum.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/as kambie
PENULIS OPINI - Foto terbaru Baharuddin Solongi yang diterima Tribun-Timur.com pada Maret 2026. Baharuddin Solongi adalah aktivis dan tokoh asal Luwu Raya yang juga penulis Opini Tribun Timur 

Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban, budaya kerja yang kuat, semangat gotong royong, dan posisi strategis sebagai salah satu simpul ekonomi kawasan timur Indonesia.

Modal sosial seperti ini sering kali lebih berharga dibandingkan kekayaan yang tersimpan di dalam perut bumi.

Kisah tentang Luwu Raya bukanlah kisah tentang nikel, emas, sawit, atau hutan semata. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia mengelola anugerah yang diberikan alam.

Sebab kekayaan alam hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan manusia.

Jika suatu hari seorang nelayan di Towuti, seorang petani di Masamba, seorang pedagang di Palopo, dan seorang pemuda di Belopa dapat merasakan manfaat yang nyata dari kekayaan daerahnya, maka saat itulah paradoks tersebut berakhir.

Dan ketika itu terjadi, Luwu Raya tidak lagi dikenal sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam, melainkan sebagai wilayah yang berhasil mengubah kekayaan alam menjadi kemakmuran yang adil bagi seluruh rakyatnya. Terima kasih

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved