Opini
Paradoks Kekayaan Alam Luwu Raya
Namun, ketika ditanya apakah kehidupan masyarakat di sekitarnya ikut berubah secara signifikan, ia hanya tersenyum.
Mereka menjadikan pendidikan sebagai investasi utama. Mereka membangun budaya inovasi.
Mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilnya, nilai ekonomi yang mereka ciptakan jauh melampaui nilai sumber daya alam yang dimiliki banyak negara kaya komoditas.
Pelajaran tersebut sangat relevan bagi Luwu Raya.
Nikel suatu hari akan habis. Harga sawit dapat turun. Permintaan pasar dunia dapat berubah sewaktu-waktu. Tetapi manusia yang terdidik akan terus mampu menciptakan nilai baru.
Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada angka investasi atau pertumbuhan ekonomi semata. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut berhasil meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Apakah angka kemiskinan menurun?
Apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik?
Apakah layanan kesehatan semakin mudah diakses?
Apakah generasi muda memiliki kesempatan kerja yang layak?
Apakah kesenjangan sosial semakin berkurang?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya menentukan keberhasilan pembangunan.
Selain itu, tata kelola yang transparan dan akuntabel menjadi syarat mutlak. Sejarah di berbagai negara menunjukkan bahwa kekayaan alam yang besar sering kali menjadi sumber konflik apabila tidak dikelola secara terbuka.
Karena itu, peran pemerintah, akademisi, media, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat umum harus berjalan bersama untuk memastikan bahwa setiap manfaat pembangunan benar-benar kembali kepada rakyat.
Pada saat yang sama, lingkungan hidup tidak boleh dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi. Hutan yang rusak, sungai yang tercemar, dan ekosistem yang hilang akan menjadi beban yang diwariskan kepada generasi mendatang. Pembangunan yang berkelanjutan bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Untungnya, Luwu Raya memiliki modal yang jauh lebih besar daripada sekadar sumber daya alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/26032026_Baharuddin-Solongi.jpg)