Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Nanik Cs: Solusi atau Sekadar Pergantian Aktor?

Sebagai pengganti, Nanik Sudaryanti Deyang ditunjuk sebagai Kepala BGN, didampingi Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai wakilnya.

Tayang:
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Hafiz Elfiansya Parawu Dosen FISIP dan Program Pascasarjana Unismuh Makassar 

Yang terpenting adalah, apakah kepemimpinan baru memiliki keberanian untuk melakukan reformasi tata kelola secara menyeluruh?

Namun, publik kembali merasakan kekhawatiran baru atas pernyataan awal dari Kepala BGN yang baru untuk memperluas layanan MBG ke daerah tertinggal serta melibatkan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dari sektor swasta.

Secara substansi, langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan komitmen untuk memperluas jangkauan program gizi nasional.

Tetapi yang perlu dipahami secara mendasar adalah bahwa masalah utama BGN saat ini bukanlah dikarenakan minimnya sumber daya dan cakupan layanan.

Persoalan utamanya adalah pada aspek tata kelola BGN.

Menambah cakupan program tanpa terlebih dahulu membenahi sistem tata kelola BGN justru akan berpotensi memperluas terjadinya risiko penyimpangan.

Dalam banyak kasus kebijakan publik, korupsi bukan terjadi karena terbatasnya anggaran, melainkan karena lemahnya sistem.

Bahkan, program yang memiliki tujuan mulia sekalipun dapat menjadi ladang korupsi apabila dikelola tanpa prinsip transparansi dan akuntabilitas yang kuat.

Seyogyanya, agenda prioritas pimpinan baru seharusnya tidak hanya berfokus pada ekspansi program.

Yang lebih urgen adalah melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola BGN, memperkuat sistem pengadaan, membangun mekanisme pengawasan berbasis teknologi digital, membuka akses informasi publik secara lebih luas, serta melibatkan lembaga independen dalam proses evaluasi program.

Pelajaran dari kasus ini begitu nyata.

Korupsi tidak akan berhenti hanya karena pelakunya berganti.

Jika tata kelola yang buruk tetap dipertahankan, maka risiko korupsi akan terus muncul dengan aktor yang berbeda.

Sebaliknya, apabila sistem diperbaiki, maka peluang penyimpangan dapat diminimalisir, meskipun terjadi pergantian pucuk kepemimpinan.

Pada akhirnya, keberhasilan BGN tidak akan ditentukan oleh siapa yang menduduki kursi pimpinan, melainkan oleh seberapa masifnya sistem tata kelola yang dibangun.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved