Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Antara Alam, Perubahan Iklim dan Masa Depan  

Republik Azerbaijan ditunjuk sebagai negara tuan rumah resmi untuk perayaan yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2026.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com
Oleh Muhammad Arsyad Guru Besar Fisika Ekosistem Karst FMIPA UNM Makassar. 

Hanya dalam waktu dua dekade, suhu permukaan rata-rata global melonjak sekitar 0,4°C laju peningkatan suhu pada periode ini melonjak hingga menjadi 0,2°C per dekade, hampir tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan laju rata-rata satu abad sebelumnya.

Pemicu utama dari lonjakan suhu ini adalah peningkatan drastis konsentrasi akumulatif gas rumah kaca (GRK) utama di atmosfer akibat pertumbuhan industri global, transportasi, serta alih fungsi lahan.

Untuk gas pembentuk rumah kaca bertumbuh dengan kenaikan C02   sekitar 200 ppm (naik sekitar 13 % ), sedangkan Gas Metana CH4 bertambah 200 ppm (naik sekitar 13 % ).

Sektor peternakan intensif dan kebocoran produksi gas alam diduga menyumbang kontribusi terbesar pada periode ini. 

Pada rentang tahun 2000 hingga 2020, percepatan krisis iklim global semakin tidak terkendali.

Dalam dua dekade ini, suhu permukaan global rata-rata melonjak sekitar 0,45°C-0,5°C. Periode ini mengukuhkan rekor baru karena hampir semua tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern terjadi setelah tahun 2000.

Lonjakan panas yang masif ini berbanding lurus dengan peningkatan tajam akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer akibat aktivitas industri dan deforestasi global.

Untuk gas pembentuk rumah kaca bertumbuh dengan kenaikan C02   sekitar 44 ppm (naik sekitar 11,9 % ), sedangkan Gas Metana CH4 bertambah 139 ppm (naik sekitar 13 % ).

Data yang dikemukakan di atas, terlihat bagaimana perubahan iklim tidak terjadi seketika yang masih banyak penduduk yang meragukannya.

Suatu saat bumi kita tidak dapat dihuni. Gas rumah kaca menyebabkan cahaya matahari yang awalnya sangat berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, berubah menjadi ancaman nyata.

Perubahan ini hendaknya mengajarkan kepada kita manusia, untuk melakukan aksi iklim.

Aksi iklim ini bisa dimulai dengan aksi individu yang memberikan dampak besar, misalnya:

(1) mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan dan ganti lampu rumah dengan LED hemat energi.

(2) mengurangi sampah makanan,  mencanakan belanja mingguan secara bijak karena pembusukan sampah makanan menyumbang emisi gas metana yang besar.

(3) pola makan berkelanjutan dengan mengurangi konsumsi daging merah dan perbanyak konsumsi pangan lokal berbasis tanaman (plant-based).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved