Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mahmud Suyuti

Syekh Yusuf Tuanta Salamaka

Merujuk tahun lahir Syekh Yusuf maka saat ini telah memasuki usia 400 tahun dan resmi menjadi agenda perayaan dunia UNESCO Anniversary 2026.

Tayang:
TRIBUN TIMUR/ist
OPINI - Machmud Suyuti, Katib Am Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy 

— Haul 400 Tahun Syekh Yusuf (1626-2026) - 1
Oleh: Machmud Suyuti
Katib Am Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy

TRIBUN-TIMUR.COM - Tuanta salamaka yang berarti tuan kita yang selamat sepintas identik dengan julukan juru selamat yang ditujukan kepada Yesus sebagai mesias dan Tuhan dalam agama Kristen atau dalam agama Islam dikenal sebagai Nabi Isa AS yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW.

Walaupun sepintas identik tetapi istilah dan gelar tuanta salamaka sangat berbeda arti dengan juru selamat.

Keduanya tidak bisa disinonimkan baik dari segi batasan maupun dari aspek difinisi, interpretasi dan ruang lingkupnya.

Tuanta salamaka merupakan sematan nama mulia sekaligus sapaan penghormatan kepada seorang sufi waliyullah yang bernama lengkap Syekh Sayyid Muhammad Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwatiy al-Makassariy al-Syafii Rahimahumullah lahir 03 Juli 1626 M/08 Syawal 1036 H.

Syekh Yusuf lahir di istana Kerajaan Gowa dan wafat di pengasingan Cafe Town daerah tandus dan terpencil di Afrika Selatan pada tanggal 23 Mei 1699 M/22 Dzulhijjah 1110 H dalam usia 73 tahun berdasarkan perhitungan tahun masehi.

Merujuk pada tahun lahir Syekh Yusuf maka untuk saat ini telah memasuki usia 400 tahun dan resmi menjadi agenda perayaan dunia UNESCO Anniversary 2026.

Haul 400 tahun untuk tuanta salamaka sebagai momen uswah, suri tauladan yang selama hidupnya sebagai tokoh sufi telah fokus menghabiskan waktu untuk kemaslahatan agama, bangsa, dan negara.

Wafatnya Syekh Yusuf dan kepergiannya bersama tubuh kasarnya tidak begitu hilang sekejap lalu dilupakan, tetapi senantiasa dikenang melalui haul-nya sebagai sosok tuan salamaka pahlawan nasional bukan saja di Nusantara tetapi di dunia internasional karena pengabdiannya di jazirah Arab sampai daratan luas Afrika Selatan.

Haul Bukan Bid’ah

Haul dalam bahasa Arab diartikan setahun memperingati wafatnya seseorang yang dimuliakan.

Haul sangat dianjurkan dan bukanlah sebagai sesuatu yang bid’ah karena term haul secara sarih, jelas tersurat dan termaktub dalam QS. al- Baqarah/2: 240 dan QS al-Ra’d/13: 24.

Selain itu kata haul dan implementasi pelaksanaanya juga disebutkan dalam hadis bahwa Nabi saw setiap tahunnya memperingati hari wafat para syuhada Uhud dengan cara mendoakan secara khusus bagi mereka dan mengunjungi makam mereka dan bersalam atasnya dengan ucapan Assalamu alaikum bima shabartum  fani’ma ‘uqba al-dar (selamat atas kalian para syuhada maka kesejahteraan kalian peroleh sebagai balasan di akhirat sebab kesabaran kalian).

Disebutkan dalam kitab Syarah al-Ihya juz 10: h. 121 bahwa apa yang telah dilakukan Nabi SAW tersebut, yakni ziarah makam syuhada sekali dalam setahun (yang disebut haul) menjadi tradisi umat Islam sejak masa khlufaurrsyidin.

Terkait dengan itu Ibn Hajar menjelaskan para sahabat dan ulama menganjurkan kegiatan haul dalam rangka memperingati wafatnya si fulan bin fulan sepanjang tidak ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil menangis keras.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved