Opini
Pancasila: Kompas Bangsa atau Sekadar Retorika?
Namun di balik kemeriahan peringatan tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang layak direnungkan bersama.
Berbagai capaian pembangunan memang patut diapresiasi, namun pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan keadilan sosial.
Ketika sebagian masyarakat menikmati manfaat pembangunan secara berlimpah sementara sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, maka sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih menuntut kerja keras untuk diwujudkan secara nyata.
Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar Pancasila saat ini bukanlah ancaman ideologi dari luar, melainkan ancaman yang muncul ketika nilai-nilainya tidak lagi menjadi pedoman dalam praktik penyelenggaraan negara.
Pancasila tidak akan kehilangan kedudukannya sebagai dasar negara, tetapi ia dapat kehilangan maknanya apabila hanya dihafal tanpa diamalkan, diperingati tanpa diimplementasikan, dan dipuji tanpa dijadikan pedoman dalam tindakan.
Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Momentum ini harus menjadi ruang evaluasi nasional untuk mengukur sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Setiap kebijakan publik, setiap penggunaan kewenangan, dan setiap keputusan politik seharusnya diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah keputusan tersebut sejalan dengan nilai-nilai Pancasila?
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering mengucapkan nama ideologinya, melainkan bangsa yang paling konsisten menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pancasila akan tetap hidup bukan karena tercantum dalam konstitusi atau dikumandangkan dalam pidato-pidato resmi, tetapi karena diwujudkan dalam tindakan nyata para penyelenggara negara dan seluruh warga bangsa.
Pada akhirnya, pertanyaan "Pancasila: Kompas Bangsa atau Sekadar Retorika?" adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh kita semua.
Jawabannya tidak terletak pada banyaknya slogan yang diucapkan, melainkan pada keberanian menjadikan Pancasila sebagai pedoman nyata dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebab bangsa ini tidak kekurangan hafalan tentang Pancasila; yang sering kali kurang adalah keteladanan dan konsistensi dalam mengamalkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-01-Johansyah-Mansyur.jpg)