Opini
Pancasila: Kompas Bangsa atau Sekadar Retorika?
Namun di balik kemeriahan peringatan tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang layak direnungkan bersama.
Negara tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa setiap warga negara memperoleh akses yang adil terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan pelayanan publik yang layak.
Pembangunan yang mengabaikan dimensi kemanusiaan pada akhirnya hanya akan melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan.
Sementara itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi semakin relevan di tengah tantangan era digital yang ditandai oleh polarisasi sosial dan politik.
Perbedaan pilihan politik, agama, suku, maupun pandangan sosial seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Persatuan yang diajarkan Pancasila bukanlah keseragaman, melainkan kemampuan untuk menjaga kebersamaan di tengah keberagaman.
Sila keempat mengamanatkan demokrasi yang berlandaskan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Demokrasi Pancasila tidak berhenti pada penyelenggaraan pemilu secara berkala.
Demokrasi juga menuntut keterbukaan, partisipasi masyarakat, penghormatan terhadap kritik, serta pengambilan keputusan yang berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Demokrasi kehilangan maknanya apabila kekuasaan hanya menjadi alat untuk mempertahankan kepentingan kelompok tertentu.
Namun, di sinilah letak persoalan yang patut menjadi bahan refleksi nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat terus disuguhi berbagai fenomena yang menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana Pancasila benar-benar menjadi pedoman dalam penyelenggaraan negara.
Kasus korupsi masih terus bermunculan dan melibatkan berbagai lapisan penyelenggara negara, mulai dari pejabat pusat hingga kepala daerah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan bangsa ini bukan terletak pada kurangnya regulasi, melainkan pada lemahnya komitmen moral dalam menjalankan amanah kekuasaan.
Korupsi bukan sekadar tindak pidana, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap nilai keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial yang menjadi inti ajaran Pancasila.
Politik lokal saat ini sangat mengkhawatirkan, karena di berbagai daerah, praktik politik dinasti dan politik kekerabatan juga semakin menjadi perbincangan publik.
Di Sulawesi Selatan sendiri, berbagai dinamika politik daerah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan betapa pentingnya menjadikan Pancasila sebagai kompas penyelenggaraan pemerintahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-01-Johansyah-Mansyur.jpg)