Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pesan Kemanusiaan di Puncak Ketaatan Berkurban

Ketaatan yang didasari oleh rasa tulus dan ikhlas tidak muncul begitu saja di dalam diri seorang hamba.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
2026-03-20-A. Rahman Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan periode 2005-2007 

Pesan kemanusiaan ini merupakan bentuk penjagaan Allah dalam melestarikan kehidupan manusia.

Terkadang, karena sesuatu dan lain hal, muncul rasa keakuan dalam diri manusia dengan mempertontonkan kekuatan atau kelebihan di hadapan sesama.

Untuk meredam semua itu, manusia diajarkan agar lebih banyak menyadari dan mengungkapkan pengakuannya bahwa sungguh Allah Maha Segala-galanya yang memberikan nikmat begitu banyak dalam kehidupan ini.

Kalau ketaatan kepada Allah saja tidak mensyaratkan harus menyembelih manusia, maka manusia harus memahami bahwa amarah dan nafsu angkara murka tidak pantas menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan terhadap sesama manusia, meski merasa mampu melakukannya.

Iduladha mengajarkan kemuliaan dan penjagaan Allah pada setiap perintah dan hidayah yang diturunkan-Nya.

Harta yang akan dikurbankan telah dimuliakan, bahkan terasa seperti anak semata wayang yang sangat sulit dilepaskan sebagai bentuk ketaatan, ketulusan, dan keikhlasan menjalankan perintah Allah.

Akan tetapi, skenario Allah menginginkan manusia untuk senantiasa hidup mulia dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.

Hewan kurban yang baru saja disembelih karena Allah akhirnya menjadi makhluk yang mulia, yakni hidup kembali di dalam diri manusia setelah mereka yang berhak menerima mengonsumsinya sebagai makanan bergizi.

Kemanusiaan adalah jalan bagi manusia untuk menemukan petunjuk bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Niat tulus dan ikhlas manusia untuk memenuhi panggilan dan perintah Allah dapat menjadi kekuatan yang menjaga manusia dari menzalimi diri sendiri maupun sesama.

Niat tulus dan ikhlas dalam menjalankan perintah Allah akan menjaga seseorang dari perilaku zalim.

Sebab, setiap perintah Allah selalu disertai pesan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama sebagai pertanda bahwa ketika seseorang telah menunjukkan ketaatannya kepada Allah.

Maka untuk menjaga kelanggengan ketaatan itu, penting bagi manusia mengaktualisasikan kesalehan sosial sehingga manusia dapat merasakan betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari Arafah menjadikan kehidupan dunia sebagai renungan di tengah padang gersang, tempat manusia harus memahami dan mengakui bahwa Allah Subhanahu Wata'ala adalah sumber kehidupan, kedamaian, keselamatan, cinta, dan kasih sayang.

Karena itu, hanya kepada-Nya manusia berserah diri dan memohon ampunan atas segala kesalahan.

Padang yang luas itu menjadi hamparan harapan akan kebaikan dunia dan akhirat, tempat manusia meniti jalan menuju Allah Subhanahu Wata'ala, datang memenuhi panggilan-Nya di setiap waktu yang ditentukan, yakni lima kali sehari, kemudian memenuhi panggilan ke Baitullah, hingga akhirnya memenuhi panggilan untuk kembali kepada-Nya dengan husnul khatimah.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved