Opini
Sijagaiki na Pada Salama
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketegangan dunia yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk konflik yang melibatkan negara-negara besar dan terganggunya jalur perdagangan internasional di selat Hormuz, perlahan ikut mengguncang ekonomi kita.
Nilai tukar rupiah melemah membuat dollar seperti berjalan tanpa rem.
Dari Rp 17.737 menuju Rp 17. 845.
Angkanya bahkan mengingatkan kita pada tanggal kemerdekaan, 17- 8- 45.
Ironis, karena di saat angka itu mengingatkan tentang merdeka, banyak rakyat justru merasa makin tidak merdeka dari himpitan hidup.
Ketika Dollar melambung, harga kebutuhan pokok ikut naik.
Dan rakyat kecil selalu menjadi yang pertama merasakan dampaknya.
Langganan Bassang pagi mulai mengurangi isi cup-nya.
Ubi dan pisang goreng yang dulu menumpuk manis di piring, sekarang berkurang dua potong karena harga tepung dan minyak goreng naik.
Coto langganan pun ikut menyesuaikan nasib.
Irisan daging berkurang, dan ketupat pun makin mungil.
Dulu ketupat cukup membuat perut damai, sekarang harus tiga.
Belum lagi harga obat yang ikut naik, membuat kepala dan dompet sama-sama pening.
Padahal sesungguhnya Makassar bukan kota yang miskin potensi.
| Menanti Nahkoda Baru Golkar Sulsel: Antara Tradisi Kekuasaan dan Kebutuhan Regenerasi |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan |
|
|---|
| Wajah Demokrasi Kita, Rengkahan atau Tantangan Pemilu Mendatang |
|
|---|
| Hari Keanekaragaman Hayati International |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)