Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Muhaemin Latif

Belajar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Catatan penting Idul Adha

Jadi, berkurban pada prinsipnya adalah “menyembelih” sifat kebinatangan dan keduniaan yang ada dalam diri manusia.

Tayang:
Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/as kambie
PENULIS OPINI - Muhaemin Latif tersenyum simpul dalam balutan kemeja putih dan kopiah hitam dalam foto yang dikirim ke Tribun-Timur.com pada 26 Mei 2026. Muhaemin Latif adalah Guru Besar Teologi Islam Kontemporer yang juga Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Makassar serta aktif menulis Opini Tribun Timur. 

Oleh: Muhaemin Latif
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Makassar/Guru Besar Teologi Islam Kontemporer

TRIBUN-TIMUR.COM - Idul Adha atau Idul Qurban adalah momentum untuk menapak tilasi kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Keduanya adalah manusia pilihan yang pernah hidup di bawah kolong langit ini yang melatari lahirnya perayaan Idul Adha sebagaimana diabadikan dalam titah suci Tuhan QS as-Saffaat ayat 102-107.

Setidaknya ada dua pesan penting dari kisah keduanya yang layak untuk direplikasi dalam konteks kekinian. 

1.    Kesabaran dan Ketaatan
Pelajaran pertama yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail adalah kesabaran dan ketaatan. Dari Ibrahim, kita belajar kesabaran, dan Ismail mewariskan ketaatan.

Dikisahkan dalam Riwayat, bahwa Nabi Ibrahim membutuhkan waktu puluhan tahun baru memiliki anak, Begitu panjang dan berliku usaha yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk memiliki anak. Doa-doa dilangitkan dan dipanjatkan kepada Tuhan untuk mendapatkan keturunan. QS as-saffaat ayat 100 menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah berhenti  berdoa kepada Tuhan,  “berikanlah aku keturunan yang saleh”. 

Ibrahim terus menunjukkan kesabarannya kepada Tuhan. Ia tidak pernah putus asa untuk berusaha dan berdoa kepada Tuhannya. Ia sangat yakin bahwa Tuhan sangat mencintai orang-orang sabar. Akhirnya, ketika usaha Nabi Ibrahim mencapai titik puncak, menanti dan menanti selama puluhan tahun. Allah swt kemudian menjawab doa-doa Nabi Ibrahim yang dipanjatkannya selama berpuluh-puluh tahun. Ibrahim pada akhirnya kemudian dikaruniai dua anak yang kelak menjadi nabi, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Nabi Ismail lahir dari Rahim siti Hajar dan Nabi Ishaq lahir dari isteri pertamanya, Sarah. Ibrahim diperkirakan berumur 86 tahun baru menjadi seorang ayah. 

Kisah di atas menggambarkan bahwa Ismail adalah anak yang dinanti selama puluhan tahun. Maka tak heran, ketika Ismail lahir, bisa dibayangkan bagaimana raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Nabi Ibrahim. Kebahagiaan yang dirasakan Nabi Ibrahim tidak tercakapkan dan tak terlukiskan. Kebahagiaan tiada tara, menanti puluhan tahun untuk mendapatkan keturunan. 

Namun perintah langit untuk menyembelih Ismail telah mengubah segalanya. Kesabaran Ibrahim pun diuji kembali, anak yang dinantikan selama puluhan tahun harus disembelih. Anak yang telah menjadi pelipur lara harus dikurbankan. Melalui pertimbangan teologis yang panjang, Ibrahim pun mengikuti perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail. Meskipun pada akhirnya Tuhan menggantikan Ismail dengan kibas. Dengan kata lain, Ibrahim telah lulus dari ujian kesabaran dan ketaatan. 

Ibrahim menunjukkan kepada kita bahwa kesabaran  kepada Tuhan di atas segala-galanya. Kesabaran adalah kunci untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Kesabaran adalah tangga untuk mencapai kesuksesan paripurna.

Seirama dengan Ibrahim, Ismail juga mewariskan nilai kesabaran dan ketaatan yang tiada tara. Ketika Ibrahim menyampaikan titah suci Tuhan kepada anaknya Ismail, Ismail tanpa banyak komentar, ia meminta Ibrahim untuk melaksanakan perintah tersebut. Bahkan ketika Ismail melihat ayahnya yang masih ragu atas perintah Tuhan tersebut, justru Ismail lah yang tampil untuk menguatkan dan meyakinkan Ibrahim bahwa perintah tersebut adalah instruksi yang sebenarnya. 

Dalam konteks ini Ismail mewariskan pelajaran penting kepada kita bahwa ketaatan yang paripurna, ketaatan kepada kedua orang tua dan ketaatan kepada Tuhan. 

2.    Ismail simbol keduniaan
Pelajaran kedua yang bisa diambil dari berkurban adalah “menyembelih” sifat keduniaan yang merasuki setiap insan. Secara simbolis, Ismail tidak hanya dilihat secara fisik seorang anak pelipur lara, tetapi Ismail lebih penting diibaratkan sebagai wujud kecintaan terhadap dunia. Kecintaan yang berlebihan kepada Ismail bisa menjadi belenggu bagi Ibrahim untuk menaati Allah swt. Menurut Imam Al-Gazali, kecintaan kepada dunia tidak hanya terbatas pada harta, tahta dan kekuasaan, tetapi juga dalam bentuk kecintaan kepada anak secara berlebihan.

Jadi, perintah untuk menyembelih Ismail pada hakikatnya adalah perintah untuk menyembeli sifat kebinatangan, keduniaan yang ada dalam diri manusia. Dalam kacamata tasawuf, Ismail adalah sifat ego (keakuan) atas pemilikan sesuatu. Pengorbanan Ismail untuk disembelih oleh bapaknya sendiri adalah bentuk kemenangan kepada ke aku an dirinya sebagai anak yang sangat dicintai oleh bapaknya. Begitupula kesediaan Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah wujud kemenangan terhadap ego nya untuk mempertahankan anak yang sangat disayanginya.

Jadi, berkurban pada prinsipnya adalah “menyembelih” sifat kebinatangan dan keduniaan yang ada dalam diri manusia. Dengan berkurban kita telah mendeklarasikan diri kita sebagai pemenang sejati terhadap kecintaan kepada dunia secara berlebihan. Itulah sebabnya, disunnahkan bagi yang berkurban untuk menyaksikan secara langsung pemotongan hewan kurban sebagai bentuk refleksi atas kemenangannya.

Demikianlah dua pelajaran penting dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yaitu kesabaran dan ketaatan, serta deklarasi kemenangan atas sifat-sifat keduniaan. Semoga momentum Idul Adha pada tahun ini mampu melahirkan Neo-Neo Ibrahim dan Neo-Neo Ismail dalam konteks kekinian. Selamat berkurban.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved