Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pesan Kemanusiaan di Puncak Ketaatan Berkurban

Ketaatan yang didasari oleh rasa tulus dan ikhlas tidak muncul begitu saja di dalam diri seorang hamba.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
2026-03-20-A. Rahman Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan periode 2005-2007 

Oleh A. Rahman

Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan periode 2005-2007

 TRIBUN-TIMUR.COM - Dianugerahi umur yang panjang hingga sampai pada periode sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah kesempatan yang mulia untuk menemukan hakikat kesetiaan, ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu Wata'ala.

Peristiwa bersejarah yang diabadikan di dalam Al-Qur’an menunjukkan bagaimana hamba Allah menampilkan ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya.

Ketaatan yang didasari oleh rasa tulus dan ikhlas tidak muncul begitu saja di dalam diri seorang hamba.

Sebelumnya, Allah terlebih dahulu mengajarkan kepada manusia tentang kesejatian hidup, nikmat yang begitu banyak, dan bagaimana manusia mensyukuri nikmat tersebut.

Nabi Ismail, putra semata wayang Nabi Ibrahim, lahir dari seorang ibu yang menjalankan perintah Allah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan meski menghadapi cobaan yang begitu besar.

Seorang wanita tangguh yang kemudian diasingkan di tempat gersang, jauh dari keramaian, dengan persiapan yang terbatas.

Seorang diri, ia menghadapi hari-hari menjaga dan merawat putranya yang masih bayi.

Peristiwa bersejarah ini menjadi gambaran penting bagi manusia bahwa ketulusan dan keikhlasan seorang ibu akan menurun kepada anaknya.

Puncak dari ujian tersebut adalah ketika bekal yang dibawa telah habis dan tidak seorang pun dapat dimintai pertolongan.

Dengan penuh harap kepada pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala, Sitti Hajar berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah untuk mencari sesuatu yang dapat menjadi asupan bagi putranya.

Akhirnya, Allah memunculkan mata air yang hingga hari ini dinikmati banyak orang.

Kehidupan manusia hari ini merupakan perjalanan ilmiah sekaligus pelajaran besar bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan.

Bahkan, ketika seseorang yang hendak berkurban dianjurkan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut di tubuhnya, hal itu menjadi pelajaran besar bahwa nikmat Allah tidak pernah berhenti tumbuh dan berkembang di dalam diri manusia.

Tanpa terasa, kuku dan rambut terus memanjang sebagai tanda kehidupan yang terus berjalan atas izin-Nya.

Kasih sayang Allah begitu luas dan menciptakan kehidupan yang sangat nyaman.

Dengan keluasan hidup yang Allah berikan kepada manusia, Allah kemudian memberi petunjuk untuk senantiasa beribadah dan hanya memohon pertolongan kepada-Nya.

Ujian terbesar yang Allah berikan kepada manusia tampak ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra semata wayangnya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Perintah itu dijalankan dengan penuh kepatuhan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai hamba yang senantiasa sabar menjalankan perintah-Nya.

Di puncak ketaatan itu, kesiapan hamba untuk menjalankan perintah Allah telah sempurna.

Akan tetapi, ketaatan tersebut diapresiasi dengan petunjuk bahwa manusia tidak pantas dikurbankan sehingga digantikan dengan hewan kurban untuk disembelih. Adapun dagingnya dibagikan kepada mereka yang berhak menerimanya.

Pesan kemanusiaan dari peristiwa ini adalah bahwa dalam situasi dan kondisi apa pun, manusia tidak boleh dikurbankan, disakiti, bahkan dibunuh, apalagi hanya karena amarah atau kepentingan tertentu.

Dalam menjalankan perintah Allah, manusia harus senantiasa mewujudkan manifestasi kedekatannya kepada Allah dengan menebarkan benih-benih kasih sayang kepada sesama.

Daging kurban yang dibagikan kepada yang berhak menerimanya merupakan pesan kemanusiaan bahwa di dalam diri sesama manusia terdapat tanda kasih sayang yang tumbuh dan berkembang.

Karena itu, pantang bagi seorang hamba untuk menyakiti, terlebih tega membunuh sesama manusia.

Allah sangat memahami manusia dengan segala sumber kehidupan yang tumbuh dan berkembang di dalam dirinya, dari unsur langit dan bumi yang memiliki sifat dan tabiat cenderung merusak bahkan membawa musibah tanpa tanggung jawab.

Dalam keadaan yang begitu kompleks dan penuh potensi kezaliman, manusia diajarkan untuk tunduk, patuh, dan taat, serta mengambil pelajaran besar bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin besar pula rasa kemanusiaan di dalam dirinya.

Pesan kemanusiaan ini lebih ditekankan oleh Allah bahwa atas perintah-Nya pun seorang manusia tidak pantas dikurbankan, melainkan diganti dengan hewan kurban.

Apalagi jika hanya karena amarah dan merasa lebih berkuasa atau lebih kuat dari yang lain sehingga tega menyakiti bahkan membunuh sesama manusia.

Pesan kemanusiaan ini merupakan bentuk penjagaan Allah dalam melestarikan kehidupan manusia.

Terkadang, karena sesuatu dan lain hal, muncul rasa keakuan dalam diri manusia dengan mempertontonkan kekuatan atau kelebihan di hadapan sesama.

Untuk meredam semua itu, manusia diajarkan agar lebih banyak menyadari dan mengungkapkan pengakuannya bahwa sungguh Allah Maha Segala-galanya yang memberikan nikmat begitu banyak dalam kehidupan ini.

Kalau ketaatan kepada Allah saja tidak mensyaratkan harus menyembelih manusia, maka manusia harus memahami bahwa amarah dan nafsu angkara murka tidak pantas menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan terhadap sesama manusia, meski merasa mampu melakukannya.

Iduladha mengajarkan kemuliaan dan penjagaan Allah pada setiap perintah dan hidayah yang diturunkan-Nya.

Harta yang akan dikurbankan telah dimuliakan, bahkan terasa seperti anak semata wayang yang sangat sulit dilepaskan sebagai bentuk ketaatan, ketulusan, dan keikhlasan menjalankan perintah Allah.

Akan tetapi, skenario Allah menginginkan manusia untuk senantiasa hidup mulia dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.

Hewan kurban yang baru saja disembelih karena Allah akhirnya menjadi makhluk yang mulia, yakni hidup kembali di dalam diri manusia setelah mereka yang berhak menerima mengonsumsinya sebagai makanan bergizi.

Kemanusiaan adalah jalan bagi manusia untuk menemukan petunjuk bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Niat tulus dan ikhlas manusia untuk memenuhi panggilan dan perintah Allah dapat menjadi kekuatan yang menjaga manusia dari menzalimi diri sendiri maupun sesama.

Niat tulus dan ikhlas dalam menjalankan perintah Allah akan menjaga seseorang dari perilaku zalim.

Sebab, setiap perintah Allah selalu disertai pesan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama sebagai pertanda bahwa ketika seseorang telah menunjukkan ketaatannya kepada Allah.

Maka untuk menjaga kelanggengan ketaatan itu, penting bagi manusia mengaktualisasikan kesalehan sosial sehingga manusia dapat merasakan betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari Arafah menjadikan kehidupan dunia sebagai renungan di tengah padang gersang, tempat manusia harus memahami dan mengakui bahwa Allah Subhanahu Wata'ala adalah sumber kehidupan, kedamaian, keselamatan, cinta, dan kasih sayang.

Karena itu, hanya kepada-Nya manusia berserah diri dan memohon ampunan atas segala kesalahan.

Padang yang luas itu menjadi hamparan harapan akan kebaikan dunia dan akhirat, tempat manusia meniti jalan menuju Allah Subhanahu Wata'ala, datang memenuhi panggilan-Nya di setiap waktu yang ditentukan, yakni lima kali sehari, kemudian memenuhi panggilan ke Baitullah, hingga akhirnya memenuhi panggilan untuk kembali kepada-Nya dengan husnul khatimah.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved