Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Normalisasi Gaya Hidup Modern dan Erosi Budaya Makassar

Perubahan gaya hidup dalam masyarakat modern sering kali dipahami sebagai konsekuensi logis dari globalisasi.

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Asis Nojeng, Dosen JBSI FBS UNM 

Oleh: Asis Nojeng
Dosen JBSI FBS UNM

TRIBUN-TIMUR.COM - Perubahan gaya hidup dalam masyarakat modern sering kali dipahami sebagai konsekuensi logis dari globalisasi.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi bukan hanya meniadakan batas-batas geografi tetapi juga mempercepat transformasi sosial budaya.

Namun, ketika perubahan tersebut tidak disertai kesadaran kritis, ia berpotensi merusak tatanan budaya lokal yang telah lama menjadi fondasi identitas kolektif.

Di Makassar, fenomena ini tampak jelas, pada nilai budaya seperti sirik na pacce.

Akibatnya, solidaritas komunal dan etika sosial perlahan tergerus oleh gaya hidup baru yang justru dinormalisasi dan diterima sebagai suatu kewajaran.

Dalam perspektif sosiologi, Anthony Giddens menjelaskan bahwa modernitas ditandai oleh disembedding mechanism, yaitu terlepasnya praktik sosial dari konteks lokalnya.

Gaya hidup modern yang masuk ke Makassar sebagai kota metropolitan, tidak hadir sebagai pilihan netral, melainkan membawa nilai individualisme, rasionalitas instrumental, dan orientasi pada citra diri.

Ketika nilai ini diadopsi secara luas, praktik budaya lokal yang berbasis komunitas dan kehormatan kolektif kehilangan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.

Normalisasi itu terjadi melalui apa yang Pierre Bourdieu sebut sebagai habitus.

Gaya hidup baru dibentuk, direproduksi, dan diwariskan melalui kebiasaan sosial, media, serta ruang-ruang simbolik seperti pusat perbelanjaan dan media digital.

Ketika generasi muda terbiasa dengan standar baru, baik dalam berpakaian, berbahasa, maupun berperilaku, maka standar lama perlahan dianggap menyimpang.

Budaya Makassar tidak diserang secara frontal, melainkan dilemahkan melalui perubahan selera dan preferensi yang tampak wajar.

Normalisasi berpakaian saat fun run misalnya--yang saya sebut tabbangka lari--kerap kali kita jumpai memakai kostum atau outfit yang memperllihatkan lekuk tubuh atau auratnya.

Padahal mereka berolahraga di tempat umum.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved