Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pesta Babi, Papua dan Kita

Awal film dokumenter ini hadir, saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa menontonnya secara full.

Tayang:
Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/Ist
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir Founder Anak Makassar Voice 

Dan juga menjadi simbol suci bahwa hanya doa, harapan dan kasih sayang Tuhan yang dapat menyelamatkan mereka.

Selain bahwa harapan itu bagi mereka tidak bisa diwujudkan oleh negara dan pemerintahnya sendiri.

Dalam konteks lain, Salib Merah bisa menjadi penanda dan simbol perlawanan bahwa hak yang dirampas akan mendapat balasan dan perlawanan. 

Selanjutnya, pesta babi sendiri diadakan kurang lebih selama sepuluh tahun sekali oleh suku Muyu di Papua Selatan. Dengan cara memelihara dan melepaskan babi secara liar hingga siap dikonsumsi.

Pesta babi sebagai judul dalam film dokumenter ini cukup memberikan saya arah dan gambaran. Setelah menontonnya saya sadar bahwa pemilihan judul Dandhy Laksono sudah sangat tepat. 

Coba kita bayangkan, tradisi adat dan kebiasaan pesta babi ini telah berjalan selama bertahun-tahun. 

Kalau hutan mereka dirampas dengan dalih kebijakan strategis nasional melalui swasembada pangan dan energi lalu pesta babi sebagai suatu kesadaran dan pandangan hidup bagi mereka pastinya tidak akan berlangsung lagi.

Sehingga, pesta babi bagi suku Muyu juga menjadi sebuah simbol perlawanan bagi negara dan industri yang sewenang-wenang merampas hak dan penghidupan mereka.

Begitupun dengan suku-suku lainnya menjadi representatif dalam perjuangan hak. 

Coba kita bayangkan dalam film ini ditampilkan sebanyak dua ribu ekskavator yang hanya dimiliki oleh satu keluarga dalam rangka proyek strategis nasional untuk melakukan perluasan lahan, pembuatan sawah, penanaman sawit dan penanaman tebu.

Dalihnya swasembada pangan dan energi dengan menciptakan bioetanol dan biodiesel. Tapi faktanya kekejaman, penindasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di tanah Papua.

Tanpa pernah benar-benar berpikir bagaimana nasib kehidupan orang Papua dan generasi mereka yang akan datang.
Bukannya melakukan dialog dengan orang Papua.

Pemerintah malah memberi respon represivitas dengan penjagaan yang ketat, melalui militerisme, aparat negara sebagai pelindung dan pengawal oligarki.

Kehadirannya hanya sebagai kaki tangan dan roda untuk melancarkan proyek industri yang didalamnya berisikan represivitas, kejahatan kemanusiaan, konflik agraria, deforestasi dan kerusakan alam, perampasan ruang hidup dan seterusnya.

Dari film dokumenter ini kita belajar persekongkolan pemerintah dan oligarki sungguh kejam dan faktanya terjadi di tanah Papua.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved