Salam Tribun Timur
NU Berubah
Di tengah dunia yang makin gaduh, pertemuan ulama justru semakin terasa penting. Makassar, pekan ini, menjadi ruang temu itu.
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah dunia yang makin gaduh, pertemuan ulama justru semakin terasa penting.
Makassar, pekan ini, menjadi ruang temu itu.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bertemu dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia Timur.
Bukan sekadar halal bihalal.
Bukan pula agenda seremonial biasa.
Ada pesan yang terasa jauh lebih dalam: mengembalikan NU kepada ruhnya3 keulamaan.
Sulawesi Selatan bukan ruang asing bagi tradisi keulamaan.
Daerah ini punya sejarah panjang ulama pesantren, sanad Haramain, hingga jejaring intelektual Islam Nusantara.
Maka ketika forum keulamaan Indonesia Timur berkumpul di sini, ada pesan simbolik: bahwa Indonesia Timur bukan pelengkap, tetapi bagian penting dalam arah masa depan NU.
Namun ada hal lain yang juga menarik dicatat.
NU sedang berubah.
Pelan-pelan, organisasi keagamaan terbesar di dunia ini bergerak memasuki ruang digital lewat Digdaya NU.
Sebuah platform layanan dan data yang ingin menghubungkan jamaah hingga ke tingkat ranting dan desa.
Ini langkah besar.
Karena tantangan organisasi hari ini bukan lagi sekadar menjaga jamaah tetap berkumpul, tetapi menjaga jamaah tetap terhubung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260520-Ketua-PBNU-Gus-Yahya-Desak-Langkah-Nyata-Pembebasan-WNI.jpg)