Salam Tribun Timur
NU Berubah
Di tengah dunia yang makin gaduh, pertemuan ulama justru semakin terasa penting. Makassar, pekan ini, menjadi ruang temu itu.
Dunia digital telah mengubah cara orang belajar agama, berorganisasi, bahkan mencari otoritas keilmuan.
Jika NU lambat, ruang itu akan diisi pihak lain—kadang tanpa sanad, tanpa metodologi, bahkan tanpa tanggung jawab keilmuan.
Di sinilah langkah PBNU patut diberi catatan positif.
Modernisasi organisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi.
Digitalisasi tidak harus menghapus sanad.
Justru teknologi bisa menjadi jalan memperkuat khidmat keulamaan.
Tetapi ada satu catatan penting.
Transformasi digital tidak boleh berhenti pada administrasi.
Yang jauh lebih penting adalah mentransformasikan nilai.
Jangan sampai NU menjadi modern secara aplikasi, tetapi kehilangan kedalaman spiritual dan adab keulamaan.
Karena kekuatan NU sejak dahulu bukan pada gedungnya.
Bukan pada platformnya.
Tetapi pada kepercayaan umat kepada ulama yang teduh, membimbing, dan bisa menjadi penengah di tengah zaman yang panas.
Makassar telah menjadi saksi pertemuan itu.
Kini tantangannya sederhana, tetapi berat: menjaga agar NU tetap besar, tanpa kehilangan jiwanya.
Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260520-Ketua-PBNU-Gus-Yahya-Desak-Langkah-Nyata-Pembebasan-WNI.jpg)