Salam Tribun Timur
NU Berubah
Di tengah dunia yang makin gaduh, pertemuan ulama justru semakin terasa penting. Makassar, pekan ini, menjadi ruang temu itu.
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah dunia yang makin gaduh, pertemuan ulama justru semakin terasa penting.
Makassar, pekan ini, menjadi ruang temu itu.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bertemu dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia Timur.
Bukan sekadar halal bihalal.
Bukan pula agenda seremonial biasa.
Ada pesan yang terasa jauh lebih dalam: mengembalikan NU kepada ruhnya3 keulamaan.
Sulawesi Selatan bukan ruang asing bagi tradisi keulamaan.
Daerah ini punya sejarah panjang ulama pesantren, sanad Haramain, hingga jejaring intelektual Islam Nusantara.
Maka ketika forum keulamaan Indonesia Timur berkumpul di sini, ada pesan simbolik: bahwa Indonesia Timur bukan pelengkap, tetapi bagian penting dalam arah masa depan NU.
Namun ada hal lain yang juga menarik dicatat.
NU sedang berubah.
Pelan-pelan, organisasi keagamaan terbesar di dunia ini bergerak memasuki ruang digital lewat Digdaya NU.
Sebuah platform layanan dan data yang ingin menghubungkan jamaah hingga ke tingkat ranting dan desa.
Ini langkah besar.
Karena tantangan organisasi hari ini bukan lagi sekadar menjaga jamaah tetap berkumpul, tetapi menjaga jamaah tetap terhubung.
Dunia digital telah mengubah cara orang belajar agama, berorganisasi, bahkan mencari otoritas keilmuan.
Jika NU lambat, ruang itu akan diisi pihak lain—kadang tanpa sanad, tanpa metodologi, bahkan tanpa tanggung jawab keilmuan.
Di sinilah langkah PBNU patut diberi catatan positif.
Modernisasi organisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi.
Digitalisasi tidak harus menghapus sanad.
Justru teknologi bisa menjadi jalan memperkuat khidmat keulamaan.
Tetapi ada satu catatan penting.
Transformasi digital tidak boleh berhenti pada administrasi.
Yang jauh lebih penting adalah mentransformasikan nilai.
Jangan sampai NU menjadi modern secara aplikasi, tetapi kehilangan kedalaman spiritual dan adab keulamaan.
Karena kekuatan NU sejak dahulu bukan pada gedungnya.
Bukan pada platformnya.
Tetapi pada kepercayaan umat kepada ulama yang teduh, membimbing, dan bisa menjadi penengah di tengah zaman yang panas.
Makassar telah menjadi saksi pertemuan itu.
Kini tantangannya sederhana, tetapi berat: menjaga agar NU tetap besar, tanpa kehilangan jiwanya.
Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260520-Ketua-PBNU-Gus-Yahya-Desak-Langkah-Nyata-Pembebasan-WNI.jpg)