Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Dolar di Dapur dan Desa

Dolar Amerika Serikat mungkin tidak pernah hadir secara fisik di dapur rumah tangga desa.

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Fahmi Prayoga, Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID 

Mereka tidak memiliki portofolio valas, tabungan besar, atau instrumen perlindungan risiko.

Pendapatan mereka sering kali tetap, bahkan tidak pasti, sementara harga barang kebutuhan pokok bergerak mengikuti tekanan biaya.

Di titik inilah pelemahan rupiah dapat berubah dari persoalan makro menjadi persoalan keseharian.

Ia tidak lagi hanya dibahas di ruang rapat bank sentral atau laporan pasar keuangan.

Ia hadir dalam keputusan rumah tangga: mengurangi lauk, menunda pembelian, menekan konsumsi, atau mencari tambahan pendapatan.

Desa sebagai Bantalan

Meski demikian, desa tidak boleh hanya dipandang sebagai korban.

Desa memiliki sumber daya tahan yang sering tidak dimiliki kota.

Masih ada sawah, kebun, pekarangan, ternak kecil, kolam ikan, jaringan sosial, dan tradisi gotong royong.

Ketika harga barang tertentu naik, sebagian masyarakat masih dapat bertahan melalui pangan lokal dan dukungan komunitas.

Kekuatan ini penting. Desa, dalam batas tertentu, tidak sepenuhnya bergantung pada pasar.

Ia masih memiliki hubungan langsung dengan tanah, air, pangan, dan jaringan sosial.

Karena itu, ketahanan desa tidak hanya ditentukan oleh pendapatan uang, tetapi juga oleh akses terhadap sumber penghidupan.

Namun, ketahanan sosial desa tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk mengecilkan masalah.

Justru karena desa memiliki potensi sebagai bantalan ekonomi, kebijakan publik harus memperkuatnya.

Kedaulatan pangan dan energi harus diterjemahkan ke dalam irigasi yang berfungsi, pupuk yang terjangkau, bibit yang baik, jalan produksi yang layak, gudang pangan yang aktif, dan data bantuan sosial yang akurat.

Menjaga Rupiah dari Struktur

Pemerintah perlu menjelaskan kepada publik secara jujur bagaimana pelemahan rupiah memengaruhi ekonomi rakyat.

Publik tidak membutuhkan bahasa yang menakutkan, tetapi juga tidak cukup diberi kalimat penenang.

Yang dibutuhkan adalah penjelasan proporsional: barang apa yang rentan, kelompok mana yang terdampak, dan kebijakan apa yang disiapkan.

Menenangkan publik memang penting. Ekspektasi buruk dapat memperburuk keadaan.

Namun, menenangkan tidak sama dengan menyederhanakan persoalan.

Kredibilitas lahir bukan dari pernyataan yang mengabaikan risiko, melainkan dari kemampuan negara menjelaskan risiko dan menunjukkan instrumen kebijakan yang bekerja.

Pada akhirnya, membela rupiah tidak cukup dilakukan melalui imbauan.

Rupiah dibela melalui disiplin fiskal, kredibilitas moneter, stabilitas harga pangan, efisiensi logistik, penguatan produksi domestik, dan pengurangan ketergantungan impor.

Rupiah tidak hanya dijaga di pasar uang.

Ia juga dijaga di sawah, pelabuhan, gudang, jalan desa, pasar tradisional, kapal nelayan, dan dapur rumah tangga.

Masyarakat desa memang tidak memakai dolar.

Tetapi ketika harga pupuk, pakan, BBM, minyak goreng, kemasan, atau kebutuhan pokok naik, mereka ikut membayar akibatnya.

Itulah sebabnya dolar bukan hanya cerita tentang pasar keuangan.

Ia juga cerita tentang dapur, desa, dan keadilan ekonomi.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved