Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menggugat Harkitnas

Pernyataan Soekarno di atas baru mendapat respon serius setelah berlalu 105 tahun dari terbitnya surat dari Endeh itu.

Tayang:
Dokumen Pribadi/Dr Ilham Kadir
PENULIS OPINI - Dr Ilham Kadir, MA Penulis, Peneliti, & Dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang 

Entah apa yang merasuki para pemegang kekuasaan, khususnya Soekarno dan Hatta sehingga memilih organisasi mati,  Boedi Oetomo, organisasi ini tinggal nama.

Pilihannya jatuh bukan pada organisasi politik, pendidikan, sosial, agamq, kemasyarakatan yang masih eksis dan berjibaku dalam mempertahankan kemerdekaan dan proklamasi 17 Agustus 1945.

Diputuskan Boedi Oetomo, berdiri pada 20 Mei 1908, dijadikan Harkitnas.

Bukan Syarikat Dagang Islam yang telah berdiri 16 Oktober 1905, lebih tua setahun dibanding Boedi Oetomo.

Atau Sarekat  Islam yang berdiri 16 Oktober 1912, atau Persyarikatan Muhammadiyah, berdiri 18 November 1912, atau Persatuan Islam, 12 September 1923, bahkan Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926.

Organisasi tersebut, bahkan sampai detik ini, sebagian besar masih eksis bahkan tambah berjaya dalam mengisi kemerdekaan, dan berada pada garda terdepan melawan musuh bangsa dan agama.

Bukan Boedi Oetomo yang telah mampus itu.

Para sejarawan banyak yang belum paham jika organisasi Boedi Oetomo didirikan dengan tujuan memecah belah umat Islam.

Sebab pada tahun 1901, tidak diketahui dengan pasti tanggal dan bulannya. Berdiri organisasi sosial pendidikan Islam pertama di Indonesia, "Jamiatul Khair" namanya, tempatnya di Pekojan Jakarta Barat.

Didirikan oleh para keturunan Arab (sayid), antara lain Sayid Muhammad al-Fakir dan Sayid Idrus bin Ahmad bin Syihab, dan lainnya.

Jamiatul Khair benar-benar jadi buah bibir nasional ketika berhasil mendatangkan ulama besar, Ahmad Syurkati, ulama besar kelahiran Sudan, alumni Haramayn, tiba di Indonesia 1911, Seorang Pembaru yang mengimpor gagasan dari Timur Tengah, salah satu tokoh yang mangadopsi gagasan sekaligus teman diskusi Ahmad Syurkati adalah KH. Achmad Dahlan.

Dan atas inisiatif Bupati Serang Banten, P.A.A. Achmad Djajadiningrat, dibangun sebuah organisasi imbangan yang juga berada di Batavia.

Organisasi tersebut harus dipimpin oleh bangsawan sebab murid-murid Jamiatul Khair pun banyak dari kalangan bangsawan Jawa, antara lain Ahmad Dahlan yang kelak menjadi pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

Sedangkan nama organisasinya, menurut usulan Achmad Djajadiningrat harus sama pula maknanya dengan "Jamiatul Khair", maka dipilihlah nama "Boedi Oetomo" nama ini merupakan alih bahasa dari Arab ke Jawa.

"Jamiatul Khair" berarti "Jamaah yang Baik" jika diterjemahkan dalam bahasa Arab berarti "Boedi Oetomo".

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved