Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Guru Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Memberi Teladan

Mereka bisa belajar dari mana saja, menonton video pembelajaran kapan saja, bahkan bertanya kepada teknologi dalam hitungan detik.

Tayang:
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Yusran, Pendidik SMA Islam Athirah Makassar 

Misalnya murid dibiarkan bermain gawai saat pembelajaran, berbicara kasar, atau tidak menghormati guru.

Jika terus dibiarkan, murid akan menganggap perilaku itu sebagai sesuatu yang biasa.

Di sisi lain, guru juga harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam sikap yang kontradiktif antara ucapan dan perbuatan.

Sebab murid sangat peka melihat ketidaksesuaian tersebut.

Akan sulit mengajarkan disiplin jika guru sendiri sering terlambat masuk kelas.

Sulit menanamkan budaya membaca jika guru jarang menunjukkan kebiasaan membaca.

Tidak mudah meminta murid bersikap sopan jika guru masih sering berbicara dengan nada merendahkan atau emosional.

Contoh lain yang sering terjadi adalah guru melarang murid bermain ponsel saat pelajaran, tetapi di saat yang sama guru justru sibuk membuka media sosial ketika proses belajar berlangsung.

Ada juga guru yang meminta murid menjaga kebersihan kelas, tetapi dirinya sendiri membuang sampah sembarangan.

Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap cara murid memandang nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.

Murid hari ini tidak hanya mendengar perkataan guru, mereka mengamati konsistensinya.

Ketika ucapan dan tindakan guru tidak sejalan, wibawa guru perlahan akan berkurang.

Murid mungkin tetap diam, tetapi mereka menyimpan penilaian sendiri.

Karena itu, keteladanan yang paling kuat sebenarnya lahir dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan.

Ki Hajar Dewantara sejak dulu sebenarnya sudah mengingatkan tentang pentingnya posisi guru sebagai teladan.

Filosofi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” masih sangat relevan hingga hari ini.

Ketika di depan, guru memberi contoh.

Ketika di tengah, guru membangun semangat.

Ketika di belakang, guru memberi dorongan dan kepercayaan.

Filosofi itu bukan sekadar slogan yang dipasang di dinding sekolah.

Itu adalah prinsip hidup seorang pendidik.

Guru tidak harus menjadi manusia sempurna, tetapi guru harus terus berusaha menunjukkan nilai-nilai baik dalam kesehariannya.

Sebab murid belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.

Keteladanan guru juga terlihat dari cara memperlakukan murid.

Guru yang tidak pilih kasih akan mengajarkan keadilan.

Guru yang mendengarkan murid dengan sabar sedang mengajarkan penghargaan terhadap orang lain.

Guru yang tidak mempermalukan murid di depan umum sedang mengajarkan rasa hormat terhadap martabat manusia.

Hubungan emosional seperti inilah yang sering kali membuat murid merasa nyaman di sekolah.

Mereka tidak hanya datang untuk belajar mata pelajaran, tetapi juga mencari sosok yang bisa dipercaya.

Tidak sedikit murid yang lebih terbuka kepada gurunya dibanding kepada orang lain.

Karena itu, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendamping dalam proses tumbuh kembang murid.

Di tengah berbagai tuntutan administrasi dan tekanan pekerjaan, guru memang sering berada dalam posisi yang tidak mudah.

Namun sebesar apa pun tantangan itu, keteladanan tetap menjadi hal utama yang tidak boleh hilang dari dunia pendidikan.

Sebab, murid akan lebih mengingat bagaimana gurunya bersikap dibanding seberapa banyak materi yang selesai diajarkan.

Guru yang baik adalah guru yang kehadirannya dirindukan.

Guru yang mampu membuat murid merasa dihargai, dibimbing, dan dipercaya.

Guru yang hangat tetapi tetap tegas.

Guru yang dekat tetapi tetap menjaga batas.

Guru yang mampu menasihati sekaligus memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved