Salam Tribun Timur
Petani Sinjai Berebut Air, Watampone Kebanjiran
Inilah anomali cuaca yang sesungguhnya. Makassar panas terik. BMKG ingatkan ancaman El Nino. Tetapi di Bone, justru banjir besar datang.
Ironinya, di saat yang sama sebagian petani Sulsel sedang cemas menghadapi kekeringan akibat El Nino.
Satu daerah kebanjiran.
Daerah lain berebut air sawah.
Cuaca kini seperti kehilangan pola.
Maka pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama.
Penanganan banjir tidak cukup hanya evakuasi dan dapur umum setelah air naik.
Mitigasi harus menjadi prioritas.
Drainase kota harus dibenahi serius.
Normalisasi sungai dan kanal jangan menunggu bencana datang.
Wilayah pesisir harus memiliki sistem peringatan dan evakuasi yang lebih cepat.
Dan yang paling penting: pemerintah daerah harus mulai menganggap krisis iklim sebagai ancaman nyata, bukan sekadar bahan seminar.
Karena yang tenggelam bukan hanya rumah warga. Tetapi juga rasa aman masyarakat.
Bone memberi pelajaran penting hari ini.
Bahwa di era perubahan iklim, musim tidak lagi bisa ditebak dengan kalender.
Dan ketika kemarau saja bisa mendatangkan banjir, maka kewaspadaan tidak boleh ikut kering.
Wassalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/banjir-di-bone-1-852026.jpg)