Salam Tribun Timur
Petani Sinjai Berebut Air, Watampone Kebanjiran
Inilah anomali cuaca yang sesungguhnya. Makassar panas terik. BMKG ingatkan ancaman El Nino. Tetapi di Bone, justru banjir besar datang.
TRIBUN-TIMUR.COM - Inilah anomali cuaca yang sesungguhnya.
Makassar panas terik.
Orang bicara kemarau.
BMKG mengingatkan ancaman El Nino.
Bahkan muncul istilah “Godzilla El Nino”.
Tetapi di Bone, justru banjir besar datang.
Ketika petani Sinjai di Gareccing berebut air karena proyek irigasi yang mandek, Watampone justeru dilanda banjir.
Sulsel bukan hanya dilanda el-Nino basah.
Tapi el-Nino banjir.
Baca juga: Sungai Meluap dan Air Laut Pasang Perparah Banjir di Bone
Bahkan banjir di Bone, Jumat (8/5/2026), tak biasa.
Air naik hingga dua meter di kawasan pesisir.
Lansia berusia hampir 100 tahun meninggal.
Seorang bocah enam tahun ikut menjadi korban.
Dan warga kembali mengingat satu tahun yang lama menghantui Bone: 2018.
Karena banjir kali ini disebut hampir setara dengan banjir besar tujuh tahun lalu.
Banjir Bone itu memberi pesan keras: krisis iklim tidak lagi berjalan normal.
Musim tidak lagi mudah ditebak.
Kemarau bisa datang bersama banjir.
Panas ekstrem bisa berdampingan dengan hujan ekstrem.
Dan masyarakat kecil selalu menjadi pihak pertama yang paling merasakan dampaknya.
Di Bone, hujan deras sejak malam hingga pagi bertemu dengan air laut pasang.
Drainase yang dangkal membuat air tak punya jalan keluar.
Maka kota pun berubah menjadi kolam besar.
Di titik inilah kita sadar, ancaman terbesar bukan hanya cuaca.
Tetapi ketidaksiapan menghadapi cuaca.
Karena hujan deras sebenarnya bukan hal baru bagi Sulsel.
Yang baru adalah kemampuan kota menahannya semakin lemah.
Drainase dangkal. Pesisir rentan.
Permukiman tumbuh tanpa tata air yang kuat.
Dan perubahan iklim membuat semuanya menjadi lebih ganas.
Ironinya, di saat yang sama sebagian petani Sulsel sedang cemas menghadapi kekeringan akibat El Nino.
Satu daerah kebanjiran.
Daerah lain berebut air sawah.
Cuaca kini seperti kehilangan pola.
Maka pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama.
Penanganan banjir tidak cukup hanya evakuasi dan dapur umum setelah air naik.
Mitigasi harus menjadi prioritas.
Drainase kota harus dibenahi serius.
Normalisasi sungai dan kanal jangan menunggu bencana datang.
Wilayah pesisir harus memiliki sistem peringatan dan evakuasi yang lebih cepat.
Dan yang paling penting: pemerintah daerah harus mulai menganggap krisis iklim sebagai ancaman nyata, bukan sekadar bahan seminar.
Karena yang tenggelam bukan hanya rumah warga. Tetapi juga rasa aman masyarakat.
Bone memberi pelajaran penting hari ini.
Bahwa di era perubahan iklim, musim tidak lagi bisa ditebak dengan kalender.
Dan ketika kemarau saja bisa mendatangkan banjir, maka kewaspadaan tidak boleh ikut kering.
Wassalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/banjir-di-bone-1-852026.jpg)