Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Makassar, Kota yang Kehilangan Rasa Aman

Dalam banyak tindak kejahatan, setidaknya masih ada motif yang dapat ditelusuri—ekonomi, dendam, atau konflik tertentu.

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Syahrul Gunawan, Advokat/Mahasiswa Doktoral UMI 

Sesudah itu masyarakat diminta tenang, padahal ketenangan itu hanya bersifat sementara, sebab kelompok lain akan muncul lagi dengan pola, keberanian, dan ancaman yang sama.

Dalam hal ini, kinerja aparat penegak hukum tentu tetap patut diapresiasi.

Langkah cepat kepolisian dalam melakukan patroli, pengungkapan, serta penangkapan terhadap sejumlah pelaku menunjukkan bahwa negara tidak tinggal diam melihat keresahan masyarakat.

Namun demikian, penindakan yang ada belum sepenuhnya menghadirkan efek jera yang kuat.

Pelaku seolah tidak pernah kehabisan keberanian untuk mengulangi, sementara kelompok-kelompok baru terus bermunculan dengan pola kekerasan yang serupa.

Karena itu, dibutuhkan tindakan yang tidak hanya berhenti pada penangkapan, tetapi juga harus mampu menanamkan rasa takut terhadap hukum melalui sanksi yang tegas, pembinaan ketat terhadap pelaku usia muda, serta pengawasan berkelanjutan terhadap jaringan kelompoknya.

Sebab yang paling mengkhawatirkan dari maraknya geng motor bukan semata jumlah korban luka, melainkan lunturnya wibawa hukum di mata generasi muda.

Dalam negara yang sehat, pelaku kejahatan seharusnya takut kepada aparat.

Akan tetapi yang terlihat hari ini justru sebaliknya: warga sipil yang takut pada pelaku, sementara pelaku melintas dengan percaya diri sambil membawa senjata.

Ini merupakan pertukaran posisi yang sangat memalukan bagi sebuah negara hukum.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Makassar tidak hanya sedang menghadapi kejahatan jalanan, tetapi sedang menghadapi krisis ketertiban sipil.

Jalanan akan semakin kehilangan legitimasi sebagai ruang aman, pedagang menutup usaha lebih cepat, mahasiswa dan pekerja membatasi aktivitas malam, dan orang tua hidup dalam kecemasan setiap kali anaknya belum pulang.

Kota ini pelan-pelan akan hidup dengan ritme ketakutan, dan kota yang hidup dalam ketakutan adalah kota yang sedang kalah.

Karena itu, Makassar tidak cukup hanya melakukan razia simbolik dan konferensi pers penangkapan.

Kota ini membutuhkan langkah yang lebih luar biasa: patroli permanen di titik rawan, pengawasan digital terhadap ajakan tawuran, kontrol ketat terhadap anak-anak yang berkeliaran hingga dini hari, pelibatan sekolah dan RT/RW, serta penegakan hukum yang benar-benar menghadirkan efek gentar.

Sebab jika rasa takut tidak dikembalikan kepada pelaku, maka rasa takut akan terus tinggal di dada masyarakat.

Makassar tidak boleh terus menjadi kota yang kehilangan rasa aman.

Sebab tanpa rasa aman, seluruh kemajuan hanya akan menjadi bangunan-bangunan megah yang berdiri di atas kecemasan warganya sendiri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved