Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Makassar, Kota yang Kehilangan Rasa Aman

Dalam banyak tindak kejahatan, setidaknya masih ada motif yang dapat ditelusuri—ekonomi, dendam, atau konflik tertentu.

Tayang:
Tribun-timur.com
OPINI - Syahrul Gunawan, Advokat/Mahasiswa Doktoral UMI 

Tubuh manusia dijadikan sasaran hanya untuk membuktikan nyali.

Jalan raya dijadikan panggung adrenalin bagi sekelompok anak muda yang menjadikan ketakutan orang lain sebagai ukuran eksistensi.

Ketika kekerasan tidak lagi membutuhkan motif, maka yang tumbuh bukan sekadar kriminalitas, melainkan budaya teror.

Inilah ironi yang sangat menyakitkan bagi Makassar sebagai kota metropolitan Indonesia Timur.

Kita menyaksikan gedung-gedung bertambah tinggi, pusat bisnis makin ramai, hotel-hotel berdiri megah, dan jalan-jalan protokol semakin terang, tetapi pada saat yang sama jaminan rasa aman justru semakin redup.

Apa artinya kemajuan fisik sebuah kota jika masyarakat tetap memacu kendaraannya dengan jantung berdebar hanya karena melihat rombongan motor tanpa plat melintas dari arah berlawanan?

Kota sebesar ini seharusnya membuat warganya nyaman pulang malam, bukan justru menjadikan malam sebagai arena bertahan hidup.

Yang lebih memprihatinkan, para pelaku teror jalanan ini mayoritas masih berusia muda.

Mereka adalah anak-anak yang semestinya menghabiskan energi untuk belajar, bekerja, atau berkompetisi dalam prestasi, tetapi justru memilih membangun kebanggaan dari ketakutan orang lain.

Motor menjadi simbol kuasa, senjata tajam menjadi alat legitimasi keberanian, dan media sosial menjadi panggung pamer kekerasan.

Mereka bergerak dengan mentalitas yang sangat berbahaya: merasa hebat ketika berhasil membuat orang lain panik.

Ini menandakan bahwa yang kita hadapi bukan hanya individu bermasalah, melainkan generasi yang sedang tumbuh dalam kultur kekerasan.

Kultur itu tidak lahir begitu saja.

Ia tumbuh dari rumah yang kehilangan pengawasan, sekolah yang melemah dalam pembinaan karakter, lingkungan yang permisif, dan negara yang terlalu sering hadir setelah korban berjatuhan.

Selama ini pola penanganan yang terlihat masih sangat reaktif: kejadian terjadi lebih dahulu, keresahan publik memuncak lebih dahulu, baru patroli diperketat dan penangkapan dilakukan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved