Opini
Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan?
Ia tidak sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang kelak menjadi penggerak seluruh sektor pembangunan.
Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas individu yang memilih profesi tersebut.
Gagal membaca tantangan abad ke-21, Peran guru justru semakin kompleks. Guru tidak lagi hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, mandiri dan komunikasi.
Selain itu, perkembangan teknologi menuntut guru untuk memiliki literasi digital yang tinggi serta kemampuan beradaptasi dengan teknolgi dan literasi digital lebih cepat.
Paradigma ini menunjukkan bahwa pendidikan guru harus terus diperkuat, bukan dilemahkan.
Program studi keguruan seharusnya menjadi pusat inovasi pedagogi, tempat lahirnya model pembelajaran baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menghapus program studi keguruan tanpa strategi penguatan alternatif justru menunjukkan kegagalan dalam membaca tantangan masa depan.
Alih-alih mengurangi jumlah program studi, yang dibutuhkan adalah transformasi kurikulum, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan kerja sama dengan dunia industri dan masyarakat.
Pendidikan guru harus diarahkan pada pengembangan kompetensi multidisipliner yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menempatkan jurusan pendidikan dan keguruan sebagai investasi bukanlah pengeluaran, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depan bangsa.
Di era industri justru kita semakin membutuhkan jurusan keguaruan yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan terserap oleh industri, tetapi kuat secara karakter dan moral yang mampu menginspirasi perubahan.
Dampak perguruan tinggi dan ekosistem pendidikan, Rencana penghapusan ribuan program studi keguruan juga akan berdampak signifikan terhadap perguruan tinggi, khususnya yang selama ini memiliki fokus pada pendidikan.
Banyak institusi yang menggantungkan eksistensinya pada program studi keguruan, baik dari sisi akademik maupun finansial.
Jika kebijakan ini diterapkan tanpa mitigasi yang jelas, maka akan terjadi disrupsi besar dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Dosen kehilangan ruang pengabdian, mahasiswa kehilangan pilihan studi, dan masyarakat kehilangan akses terhadap pendidikan guru.
Dampak ini tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi menghambat regenerasi tenaga pendidik di masa depan.
Selain itu, penghapusan program studi juga dapat mengurangi keragaman pendekatan dalam pendidikan guru.
Setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan dan karakteristik masing-masing.
Dengan mengurangi jumlah program studi, maka peluang inovasi dan eksperimen dalam pendidikan guru juga akan semakin terbatas.
Alternatif Kebijakan yang Lebih Konstruktif, Daripada menghapus program studi keguruan, pemerintah seharusnya mempertimbangkan pendekatan yang lebih konstruktif dan berkelanjutan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas program studi, bukan sekadar jumlahnya.
Program studi dengan kualitas rendah memang perlu dibenahi atau bahkan ditutup, tetapi harus berdasarkan indikator yang jelas dan transparan.
Sementara itu, program studi yang memiliki potensi dan kinerja baik harus diberikan dukungan seerta bantuan dana untuk berkembang, banyak program studi yang akreditasi unggl tapi bantuan dari pemerintah masi minim.
Selain itu, perlu ada kebijakan yang lebih terintegrasi antara pendidikan tinggi dan kebutuhan lapangan kerja.
Perencanaan kebutuhan guru harus berbasis data yang akurat, sehingga jumlah lulusan dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Penguatan sistem distribusi guru juga menjadi kunci.
Insentif bagi guru yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil, serta kebijakan afirmatif lainnya, dapat membantu mengatasi ketimpangan distribusi tanpa harus mengurangi jumlah program studi.
Pendidikan sebagai investasi jangka panjang Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada cara pandang terhadap pendidikan itu sendiri.
Apakah pendidikan dipandang sebagai beban anggaran yang harus ditekan, atau sebagai investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa?
Menghapus program studi keguruan mungkin memberikan efisiensi jangka pendek, tetapi berpotensi menimbulkan kerugian besar dalam jangka panjang.
Pendidikan bukanlah sektor yang dapat diukur semata-mata dengan logika ekonomi.
Ia berkaitan dengan pembangunan manusia, nilai-nilai, dan peradaban.
Guru adalah aktor utama dalam proses tersebut.
Melemahkan pendidikan guru sama artinya dengan melemahkan fondasi bangsa.
Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan guru harus dirumuskan dengan hati-hati, berbasis data, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Penutup Menimbang Masa Depan Pendidikan Indonesia, Rencana penghapusan program studi keguruan bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan keputusan strategis yang akan menentukan arah pendidikan Indonesia.
Dalam situasi ini, diperlukan keberanian untuk berpikir kritis dan mengambil langkah yang tepat.
Alih-alih mengurangi, yang dibutuhkan adalah memperkuat.
Alih-alih menutup, yang diperlukan adalah membenahi.
Pendidikan guru harus ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan sekadar opsi yang dapat dikorbankan.
Jika bangsa ini ingin melahirkan generasi yang unggul, bermoral atau berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat global, maka investasi pada pendidikan guru adalah keniscayaan.
Menghapus program studi keguruan bukanlah solusi, melainkan potensi masalah baru yang akan kita hadapi di masa depan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita mampu mengurangi jumlah program studi, tetapi apakah kita siap menanggung konsekuensi dari melemahnya sistem pendidikan guru.
Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan suatu bangsa tidak pernah melampaui kualitas gurunya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Universitas-Bosowa-03052026.jpg)