Opini
Mengapa Jurusan Keguruan Mulai Diragukan?
Ia tidak sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang kelak menjadi penggerak seluruh sektor pembangunan.
Ketika lulusan non-kependidikan dapat masuk melalui jalur yang relatif lebih singkat, muncul pertanyaan tentang standar kompetensi yang diterapkan.
Apakah semua calon guru memiliki kesiapan yang setara dalam memahami kompleksitas pembelajaran?
Dalam konteks ini, rencana penghapusan program studi keguruan justru memperparah kondisi.
Jika akses pendidikan keguruan dipersempit, sementara jalur alternatif tetap dibuka, maka identitas profesional guru sebagai bidang keilmuan khusus akan semakin tergerus.
Profesi guru berisiko direduksi menjadi pekerjaan teknis yang dapat diisi oleh siapa saja, tanpa mempertimbangkan kedalaman kompetensi pedagogis.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi jurusan pendidikan juga tidak kecil.
Sekolah bisa diisi oleh guru dengan latar belakang berbeda tanpa standar kompetensi yang sama.
Stigma sosial dan krisis apresiasi, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya apresiasi terhadap profesi guru.
Dalam realitas sosial, profesi guru sering kali dipandang sebagai pilihan alternatif, bukan pilihan utama.
Rendahnya kesejahteraan, terbatasnya jenjang karier, serta minimnya pengakuan sosial menjadi faktor yang memengaruhi persepsi ini.
Rencana penghapusan program studi keguruan secara tidak langsung memperkuat stigma tersebut.
Kebijakan ini seolah mengirimkan pesan bahwa bidang pendidikan tidak lagi menjadi prioritas.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh institusi pendidikan tinggi, tetapi juga oleh generasi muda yang sedang menentukan pilihan karier.
Jika tren ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin profesi guru akan kehilangan daya tariknya.
Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada kualitas calon guru yang masuk ke sistem pendidikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Universitas-Bosowa-03052026.jpg)