Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

PP TUNAS Menguatkan Literasi Digital?

Ketenangan semu di ruang keluarga ini nyatanya berbanding terbalik dengan kemampuan fisik mereka.  

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Adekamwa Humas Pusjar SKMP LAN  

Oleh: Adekamwa 

Humas Pusjar SKMP LAN 

TRIBUN-TIMUR.COM - Angka-angka yang kita baca belakangan ini terasa seperti sebuah tamparan, 79,5 persen anak Indonesia kini terhubung ke internet, namun 48?ri mereka telah terpapar konten yang belum saatnya mereka konsumsi.

Lebih memilukan lagi, 42 persen anak mengaku merasa tidak aman saat berada di dunia digital.

Bagi Penulis, rasa tidak aman ini menunjukkan bahwa ruang digital kini semakin sulit dipahami, bahkan oleh generasi yang tumbuh bersama teknologi.  

Mungkin pembaca juga pernah merasakannya, media sosial yang dulu terasa dekat dan menyenangkan kini justru membuat orang cemas dan curiga.  

Di tengah situasi inilah kehadiran PP TUNAS menjadi penting sebagai upaya agar ruang digital kembali memberi rasa aman bagi masyarakat.  

PP TUNAS dan Batas Etika Ekosistem Digital

Lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS yang mulai berlaku Maret 2026 ini, terasa seperti sebuah napas lega di tengah kepungan polusi digital.  

Dengan membatasi usia pengguna media sosial minimal 13 tahun dan memerlukan izin orang tua hingga usia 16 tahun, pemerintah akhirnya mencoba menarik garis tegas untuk memastikan bahwa seorang anak tidak lagi dibiarkan sendirian menghadapi algoritma.

Namun, kita harus jujur pada diri sendiri, sistem verifikasi usia yang paling canggih sekalipun akan runtuh jika seorang anak bisa meminjam identitas orang tuanya hanya untuk melihat apa yang sedang tren.  

Literasi Digital dalam Lingkungan Keluarga

Penulis mendapati sebuah momen dimana seorang anak Balita yang rewel, kemudian serta merta ibunya menyodorkan gadget yang membuatnya instan terdiam menikmati suguhan itu. 

Hal tersebut akan membuat kewajiban pendampingan orang tua longgar, dan tentunya tidak mereka sadari. Keheningan singkat ini nyatanya menutupi sebuah krisis perkembangan yang terpetakan secara gamblang melalui data-data penelitian.

Israini Suriati dan rekan-rekannya, dalam penelitian mereka yang bertajuk "Impact of Gadget Use on Infant and Toddler Motor and Cognitive Development in the Digital Era" dalam Window of Health: Jurnal Kesehatan (2026), mengungkap kenyataan pahit bahwa 60 persen anak usia enam bulan hingga lima tahun telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam setiap harinya bersama gadget.  

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved